SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan semakin kering hingga akhir Agustus 2026.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama karena kelembapan tanah terus menurun.
Baca Juga: Kalaksa BPBD Kotim Tumbang Usai Terhirup Asap Pekat Karhutla
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan tingkat kemudahan terbakar di Kotim berada pada kategori sangat tinggi mulai 24 hingga 30 Agustus.
“Dari tanggal 24 sampai 30 itu sangat tinggi potensi sangat mudah terbakar,” katanya saat melakukan paparan di hadapan forkopimda, Senin (24/8/2026) kemaren.
Ia menjelaskan, indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menunjukkan bahan-bahan mudah terbakar pada lapisan permukaan tanah, sekitar 1-2 sentimeter, sudah berada dalam kondisi sangat kering.
Kondisi serupa juga terjadi pada lapisan tanah 2-5 sentimeter. Minimnya suplai hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat lapisan tersebut semakin mudah terbakar.
Baca Juga: Banggar DPRD Kotim Desak Percepatan BTT untuk Perkuat Penanganan Karhutla
“Beberapa bulan ini kita belum menerima suplai hujan yang cukup lama. Jadi potensi di lapisan 2 sampai 5 cm semakin tinggi untuk terbakar, apalagi sudah merambat. Posisi merambat dia akan menyebar lebih cepat,” jelasnya.
Ancaman bahkan semakin tinggi pada lapisan tanah di bawah 10 sentimeter, khususnya wilayah selatan Kotim. Mulyono mengatakan kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga 30 Agustus.
“Di bagian selatan Kabupaten Kotawaringin Timur itu potensinya sangat tinggi karena sudah semakin kering dan kita sudah tidak menerima hujan dalam beberapa saat ini,” ujarnya.
Kondisi atmosfer yang kering juga dipengaruhi pola angin. Mulyono menyebut adanya bibit siklon tropis di wilayah utara yang berpotensi menyerap uap air.
“Masih di utara itu ada bibit tropical cyclone, itu berpotensi akan menyerap uap udara lagi. Jadi kita kering, semakin kering,” katanya.
Baca Juga: Air Sungai Mentaya Tak Lagi Bisa Dipakai, 3 Desa di Pulau Hanaut Krisis Air Bersih
Dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api. (*)
Editor : Ayu Oktaviana