SAMPIT – Usai kurang lebih dua bulan dilanda kekeringan, hujan akhirnya mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Senin (7/9/2026).
Hal itu menjadi kabar yang dinanti warga ditengah kondisi kering dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Guyuran hujan terlihat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Sampit. Hujan yang turun menjadi diharapkan dapat membantu menekan asap dan debu akibat karhutla yang beberapa waktu terakhir mengganggu kualitas udara.
Baca Juga: Hujan Diperkirakan Masih Minim, Kotim Hadapi Risiko Karhutla hingga Akhir September
Seorang warga Sampit, Rudi (35), mengaku bersyukur melihat hujan kembali turun setelah cukup lama tidak merasakan hujan.
“Sudah lama sekali tidak hujan seperti ini. Hampir dua bulan rasanya. Semoga hujan ini bisa membantu mengurangi asap karena beberapa hari terakhir udara terasa tidak enak untuk bernapas,” katanya.
Menurutnya, kondisi udara yang dipenuhi asap membuat aktivitas masyarakat ikut terganggu. Hujan yang turun diharapkan dapat membantu membersihkan udara sekaligus membasahi lahan-lahan yang masih rawan terbakar.
“Yang paling kami harapkan asapnya berkurang. Kalau hujan terus, mudah-mudahan titik api juga ikut padam,” ujarnya.
Dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terdapat potensi hujan di sejumlah wilayah Kotim pada Senin siang.
Baca Juga: Seorang Pria di Sampit Mengamuk Hingga Adu Jotos Dengan Tukang Parkir PPM
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Suci Priatin Ningsih, mengatakan awan hujan terpantau berpotensi tumbuh di beberapa wilayah.
“Kalau dilihat dari radar, awan hujan potensi ada hujan di wilayah Kelurahan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Mentaya Hilir Utara, Telawang, Kotim bagian tengah,” katanya kepada Kaltengpos.jawapos.com.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah tersebut dengan masa berlaku mulai pukul 13.15 hingga 15.15 WIB. Hujan diperkirakan berintensitas sedang hingga lebat.
Turunnya hujan menjadi momentum penting di tengah kondisi Kotim yang sebelumnya mengalami kemarau cukup panjang. Data prakiraan sebelumnya juga menunjukkan Kotim menghadapi kondisi curah hujan yang sangat rendah pada periode Juli hingga September 2026.
Selain membantu membasahi lahan, hujan juga diharapkan memberikan dampak terhadap kondisi udara. Sebelumnya, kabut asap akibat karhutla masih menjadi persoalan di Sampit dan sejumlah wilayah Kotim. Kondisi tersebut memaksa masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. (*)
Editor : Ayu Oktaviana