SAMPIT – Warna langit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), berubah kekuningan beberapa hari belakangan. Fenomena tersebut muncul bersamaan dengan kondisi udara yang dipenuhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jarak pandang di sejumlah kawasan dilaporkan hanya berkisar 100 sampai 300 meter. Kondisi udara juga mulai dirasakan mengganggu kenyamanan warga, mulai dari mata terasa pedih hingga napas yang terasa kurang lega.
Perubahan warna langit menjadi perhatian masyarakat. Cahaya matahari yang biasanya tampak terang terlihat lebih redup dengan semburat kekuningan akibat tebalnya lapisan asap di atmosfer.
Baca Juga: Karhutla Kotim Ancam Satwa Dilindungi, Trenggiling hingga Orangutan Jadi Korban
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo menjelaskan, perubahan warna tersebut berkaitan dengan keberadaan partikel aerosol dalam jumlah tinggi di atmosfer.
Partikel yang berasal dari asap pembakaran dapat membentuk lapisan di udara. Ketika cahaya matahari melewati lapisan tersebut, sebagian cahaya mengalami proses hamburan dan penyerapan sehingga warna yang terlihat dari permukaan bumi ikut berubah.
“Yang terlihat di Sampit merupakan efek optik atmosfer. Cahaya matahari berinteraksi dengan partikel aerosol yang terkandung dalam lapisan asap sehingga menghasilkan perubahan warna yang dapat diamati dari permukaan,” jelasjya, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, efek perubahan warna akan semakin mudah terlihat ketika posisi matahari tidak terlalu tinggi. Pada kondisi tersebut, cahaya harus melewati atmosfer dalam lintasan yang lebih panjang sebelum mencapai permukaan.
Selain konsentrasi asap dan posisi matahari, kelembapan serta karakteristik partikel di udara turut memengaruhi tampilan warna langit.
Baca Juga: Kepala BNPB Lapor ke Presiden Jika Aktivitas Masyarakat Masih Normal Meski Kabut Asap
“Warna kuning, oranye sampai kemerahan itu terbentuk dari kombinasi beberapa faktor atmosfer, terutama kepadatan aerosol, ketebalan asap, posisi matahari, kelembapan dan sifat partikel yang berada di udara,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga terjadi ketika kualitas udara di Kotim berada pada level yang sangat buruk. Berdasarkan data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) ISPU PM10 tercatat mencapai lebih dari seribu atau masuk kategori berbahaya.
Sementara indikator PM2,5 berada di angka di atas 500. Dengan angka tersebut, Kotim tercatat sebagai wilayah dengan kualitas udara sangat buruk pada waktu pemantauan tersebut. (*)
Editor : Ayu Oktaviana