SAMPIT – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyoroti aktivitas manusia sebagai faktor utama di balik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah.
Ia menyebut sekitar 99 persen kejadian karhutla diperkirakan berkaitan dengan ulah manusia, baik dalam aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat maupun kegiatan perusahaan.
Baca Juga: Pengakuan "Dosa" Menhut Raja Juli di Sampit: Akui Kalimantan Tidak Baik-Baik Saja
Menurut Raja Juli, praktik pembakaran masih dipilih sebagian pihak karena dianggap sebagai cara murah untuk membersihkan lahan. Padahal, api yang tidak terkendali dapat meluas dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan, serta aktivitas masyarakat.
“Kita tahu bahwa 99 persen kejadian ini pasti ulah manusia, baik itu masyarakat kecil yang berladang kemudian tidak bisa mengontrol apa yang mereka bakar, atau juga yang besar,” ujarnya saat kunjungan ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu (17/10/2026).
Ia menilai persoalan karhutla tidak cukup ditangani hanya melalui pemadaman. Perubahan perilaku masyarakat, edukasi, pencegahan, dan penegakan hukum harus berjalan bersamaan agar kebakaran tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Baca Juga: Menhut Apresiasi Perusahaan Swasta Bantu Padamkan Karhutla Kalteng, 16 Kali Water Bombing
Raja Juli juga menyoroti kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar karena dianggap dapat membuat tanah lebih subur. Menurutnya, cara pandang tersebut perlu diluruskan karena kebakaran yang terjadi justru berpotensi menimbulkan kerugian lebih luas.
Salah satu tantangan berat dalam penanganan karhutla, kata Raja Juli, adalah kebakaran di lahan gambut. Api yang terlihat di permukaan bisa saja sudah padam, tetapi bara masih menyala di bawah tanah.
Baca Juga: Pasukan Udara Dikerahkan, Menhut Punya Tiga Jurus Jitu Padamkan Karhutla dari Udara
Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pemeriksaan dan pemadaman secara berulang. Bahkan, teknologi seperti drone termal dapat digunakan untuk membantu mendeteksi titik panas yang tidak terlihat secara langsung.
“Kita lihat bagaimana susahnya melakukan pemadaman di gambut. Tidak ada apinya, tetapi baranya dari bawah. Kalau memakai drone termal, atasnya tidak ada apa-apa, tetapi bawahnya masih merah seperti batu bara. Terbakar,” jelasnya.
Situasi itu menyebabkan kebakaran berpotensi muncul kembali meskipun titik api di permukaan telah berhasil dikendalikan. Karena itu, pemadaman perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan personel dan peralatan yang memadai.
Raja Juli meminta masyarakat turut bertanggung jawab dalam mencegah karhutla, terutama ketika hujan alami di Kalteng diperkirakan masih terbatas hingga November. Ia juga meminta media membantu mengedukasi masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan.
Baca Juga: Pemko Palangka Raya Buka Data Karhutla ke Publik, Ada Dashboard hingga Chatbot Tatau
“Mohon teman-teman media mengajak kembali masyarakat kita, mengedukasi masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran. Kalau korporasi melakukan pelanggaran, kita tindak,” bebernya.
Ia menekankan, upaya pencegahan sangat penting agar kerja keras petugas tidak berulang tanpa hasil yang bertahan lama. Menurutnya, petugas di lapangan kerap menghadapi situasi ketika kebakaran yang telah dipadamkan di satu lokasi kembali disusul kebakaran di tempat lain. (*)
Editor : Ayu Oktaviana