ANGGOTA Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mendorong pemerintah untuk lebih agresif membangun diplomasi internasional sekaligus melawan arus disinformasi global terkait industri kelapa sawit Indonesia.
Ia menilai, tanpa strategi narasi yang tegas dan berbasis data, Indonesia akan terus berada dalam posisi defensif menghadapi tekanan dari negara-negara maju.
“Kita tidak boleh terus minta dimengerti. Kita harus bicara tegas, berbasis data, dan membela kepentingan petani serta bangsa kita sendiri,” ujar Firman dalam keterangan tertulis yang dikutip dari InfoSAWIT, Jumat (2/1/2026).
Firman menilai, industri kelapa sawit nasional kerap menjadi sasaran kampanye negatif yang tidak sepenuhnya didasari kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, isu lingkungan sering kali dijadikan bungkus bagi kepentingan ekonomi dan praktik proteksionisme dagang, khususnya oleh negara-negara Eropa.
Ia menyoroti berbagai tudingan sepihak terhadap sawit, mulai dari penyebab utama deforestasi, kerusakan lingkungan, hingga pelanggaran hak asasi manusia. Padahal, kata Firman, tuduhan tersebut jarang disertai konteks global serta perbandingan yang adil dengan komoditas minyak nabati lain.
“Kalau bicara lingkungan, harus adil. Jangan hanya sawit yang disorot, sementara kedelai, bunga matahari, atau rapeseed yang membutuhkan lahan jauh lebih luas justru tidak pernah dipersoalkan,” tegas Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia tersebut.
Baca Juga: Pakar Hukum Kehutanan: Denda Satgas PKH Berpotensi Bangkrutkan Industri Sawit dan PHK Besar-Besaran
Meski demikian, Firman mengakui bahwa isu keberlanjutan tetap menjadi perhatian penting bagi Indonesia.
Namun ia menegaskan, pemerintah tidak boleh tinggal diam karena berbagai kebijakan konkret telah diterapkan, seperti penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), moratorium izin baru perkebunan sawit, serta penguatan transparansi tata kelola industri.
“Indonesia dan Malaysia sudah bergerak ke arah industri sawit berkelanjutan. Ini fakta yang sering diabaikan oleh NGO dan negara-negara pengkritik,” ujar legislator daerah pemilihan Jawa Tengah III itu.
Firman juga menepis anggapan bahwa kelapa sawit selalu identik dengan kerusakan lingkungan. Menurutnya, dengan pengelolaan yang tepat, perkebunan sawit justru dapat memberikan kontribusi ekologis, termasuk dalam penyerapan karbon dan perbaikan tata guna lahan.
“Yang harus kita lawan bukan sawitnya, tapi praktik buruknya. Kalau dikelola dengan benar, sawit justru bisa menjadi solusi, bukan masalah yang mesti kita khawatirkan,” pungkas politisi yang juga anggota Badan Legislasi DPR RI tersebut.(ram)
Editor : Ayu Oktaviana