PALANGKA RAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya menegaskan bahwa intensitas hujan tinggi di Kalimantan Tengah dipengaruhi fenomena La Niña, bukan siklon seperti yang memicu bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu.
Penjelasan tersebut disampaikan Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Palangka Raya, Anton, saat ditemui di Hotel Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya, Selasa (2/12/2025).
Menurut Anton, La Niña memberikan dampak peningkatan curah hujan, tetapi tidak sebanding dengan ekstremnya curah hujan akibat siklon. Ia mengatakan penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan dua fenomena tersebut.
“La Niña hanya meningkatkan suplai uap air dan curah hujan. Berbeda dengan siklon yang mengumpulkan massa udara dari berbagai penjuru dan menyebabkan cuaca ekstrem,” ujar Anton.
Ia menjelaskan, hujan ekstrem di Sumatera mencapai tingkat yang tidak mungkin ditahan infrastruktur mana pun.
“Di Sumatra kemarin, curah hujannya sehari bisa 300 mm. Itu setara hujan satu bulan di musim hujan di Kalteng,” terangnya.
“Dan karena berlangsung sampai tujuh hari, totalnya bisa lebih dari 2.000 mm setara hujan satu tahun. Itu sebabnya dampaknya sangat besar,” sambungnya.
Sementara di Kalimantan Tengah, La Niña membuat musim hujan lebih basah, namun intensitasnya tidak sampai menyamai fenomena siklon.
“Curah hujan kita tinggi karena La Niña, tapi tidak ekstrem seperti siklon. Meski begitu, potensi banjir tetap ada, terutama di daerah utara,” kata Anton.
Anton juga menegaskan bahwa hujan di daerah hulu maupun penggundulan hutan dapat memperparah aliran air ke wilayah rendah.
“Memang air dari daerah tinggi pasti turun ke bawah. Kalau curah hujannya besar dan kondisi hulu rusak, limpasan jadi lebih cepat,” ujarnya.
BMKG kembali mengingatkan bahwa La Niña diprediksi bertahan hingga awal semester pertama 2026, sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.
“Kami sudah keluarkan peringatan dini. Kuncinya koordinasi di lapangan agar dampak bisa diminimalkan,” tegas Anton.(*rif)
Editor : Ayu Oktaviana