Berdasarkan data Dinkes Kalteng, sebaran kasus DBD sepanjang tahun 2025 masih ditemukan di hampir seluruh kabupaten dan kota.
Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 248 kasus, disusul Kota Palangka Raya sebanyak 194 kasus dan Kabupaten Murung Raya 145 kasus.
Selanjutnya, Kabupaten Barito Utara tercatat 119 kasus, Kotawaringin Timur 102 kasus, Seruyan 67 kasus, Sukamara 64 kasus, Lamandau dan Katingan masing-masing 56 kasus, Gunung Mas 50 kasus, Barito Timur 30 kasus, Kapuas 29 kasus, serta Pulang Pisau 10 kasus. Sementara itu, Kabupaten Barito Selatan tercatat nihil kasus DBD sepanjang tahun 2025.
SEBARAN KASUS DBD DI KALTENG 2025
DAERAH KASUS
Kotawaringin Barat 248 Kasus
Kota Palangka Raya 194
Murung Raya 145
Barito Utara 119
Kotawaringin Timur 102
Seruyan 67
Sukamara 64
Lamandau 56
Katingan 56
Gunung Mas 50
Barito Timur 30
Kapuas 29
Pulang Pisau 10
Barito Selatan 0
TOTAL 1.170 Kasus
SUMBER: DINKES KALTENG
Meski terjadi penurunan jumlah kasus secara keseluruhan, dr. Riza mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 masih terdapat empat kasus kematian akibat DBD di Kalimantan Tengah. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan.
“Tahun 2025 ada kasus kematian sebanyak empat orang. Ini menjadi pengingat bahwa DBD tetap penyakit berbahaya dan tidak boleh dianggap ringan,”ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (26/1/2026).
Ia juga menyoroti masih ditemukannya kasus DBD di beberapa wilayah dalam beberapa waktu terakhir, termasuk di kawasan Mendawai, Kota Palangka Raya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya langkah pencegahan yang konsisten, terutama saat curah hujan meningkat.
“Di saat musim penghujan, masyarakat harus waspada terhadap DBD. Laksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara masif di seluruh wilayah Kalteng,” imbaunya.
Selain itu, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD, seperti demam tinggi, pusing, nyeri sendi, lemas, atau penurunan kondisi tubuh secara mendadak.
“Bila mengalami gejala DBD, jangan menunda. Segera kunjungi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar bisa ditangani lebih cepat dan tidak menimbulkan dampak yang membahayakan,” tandasnya.
Peran masyarakat memutus rantai penyebaran
Kepala Puskesmas Bukit Hindu, Hellyana, menegaskan bahwa peran serta masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya memutus rantai penyebaran DBD.
Ia mengatakan, sejauh ini masyarakat di wilayah kerjanya sangat terbuka dan kooperatif terhadap setiap upaya yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Edukasi dan penyuluhan yang diberikan tidak hanya diterima, tetapi juga benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Untungnya, masyarakat sangat terbuka dan mau bekerja sama. Ketika kami melakukan edukasi, setelah itu mereka langsung menerapkan apa yang telah kami arahkan,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan lingkungan berdampak langsung pada penurunan kasus DBD. Bahkan, sepanjang tahun 2025, wilayah kerja Puskesmas Bukit Hindu tidak ditemukan kasus DBD.
“Sepanjang tahun 2025 tidak ditemukan kasus DBD. Ini karena masyarakat mulai benar-benar memperhatikan kebersihan lingkungan, sehingga nyamuk tidak bersarang dan tidak menimbulkan kasus DBD,” jelasnya.
WASPADA DBD
- Sepanjang tahun 2025 kasus DBD cenderung menurun dari tahun 2023-2024
- Selama 2025 ada 4 warga meninggal dunia karena DBD
- Kasus terbaru di 2026 ditemukan di sejumlah wilayah di Palangka Raya
- Dinkes minta laksanakan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dan masif
- Jaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar, hilangkan genangan air sekecil apa pun
- Jangan menunda pemeriksaan bila muncul gejala DBD
GEJALA
- Demam tinggi
- Pusing
- Nyeri sendi
- Tubuh lemas
- Penurunan kondisi tubuh secara drastis
Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat terlihat dari semakin rutin membersihkan lingkungan sekitar rumah, tidak membiarkan adanya genangan air, serta lebih peduli terhadap tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
Namun demikian, dengan kembali ditemukannya kasus DBD saat ini, Hellyana mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan tetap konsisten menjaga kebersihan lingkungan. Ia menekankan bahwa genangan air sekecil apa pun dapat menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.
“Dengan adanya kasus DBD ini, kami kembali mengingatkan masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan jangan membiarkan adanya genangan air yang berpotensi menjadi tempat jentik-jentik nyamuk,” tegasnya.
Hellyana berharap, melalui kerja sama yang baik antara masyarakat dan petugas kesehatan, kasus DBD di wilayah Mendawai dapat segera dikendalikan dan tidak meluas. Ia juga mengajak masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam, pusing, atau lemas.
“Pencegahan itu kuncinya ada di lingkungan dan kesadaran bersama. Kalau kita jaga bersama, dampak buruk DBD terhadap masyarakat bisa kita hindari,” ujarnya.
Sementara itu secara keseluruhan, kasus DBD di Kalteng sepanjang tahun 2025 tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Meski demikian, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah, terutama di tengah kondisi musim penghujan yang rawan memicu peningkatan kasus DBD.(zia/ala)
Editor : Agus Pramono