Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Karhutla di Kalteng Tahun 2026 Diprediksi Meningkat, Gambut Paling Rawan 

Dea Umilati • Rabu, 13 Mei 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi karhutla terjadi di Kalteng. AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Ilustrasi karhutla terjadi di Kalteng. AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

PALANGKA RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng diperkirakan kembali meningkat pada 2026.

Kondisi tersebut menjadi peringatan serius di tengah mulai berubahnya cuaca menuju musim kemarau, terutama di sejumlah wilayah gambut yang selama ini menjadi titik rawan kebakaran.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, memprediksi potensi karhutla tahun ini bisa meningkat hingga 20 persen dibanding sebelumnya. Prediksi tersebut didasarkan pada kondisi cuaca, kerentanan lahan gambut, hingga masih lemahnya aspek mitigasi bencana di Kalimantan Tengah.

“Kalau berbicara terkait seberapa besar potensi yang akan terjadi di Kalteng pada tahun 2026 ini, menurut kami kemungkinan naik 20 persen dari sebelumnya. Artinya potensi kebakaran akan semakin tinggi,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Meski saat ini hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, Janang menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran. Ia menyebut, prediksi musim kemarau yang datang lebih kering tetap harus diwaspadai sejak dini.

“Prediksi BMKG sebelumnya kan April-Mei ini mulai kemarau, meskipun sekarang masih terjadi hujan. Tapi prediksi kami di sebagian daerah, kemungkinan ke depan kalau memang masuk musim kering dan kemarau, nanti akan terjadi kebakaran yang luar biasa,” katanya.

Menurut Janang, wilayah dengan karakteristik lahan gambut masih menjadi daerah paling rawan terjadi karhutla. Beberapa kabupaten yang disebut memiliki tingkat kerentanan tinggi di antaranya Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, hingga Kotawaringin Barat.

“Nah yang paling rawan itu wilayah yang memang banyak lahan gambutnya seperti Pulang Pisau, Kapuas, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat,” sebutnya.

Namun demikian, ia menegaskan potensi kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah tersebut. Seluruh daerah di Kalimantan Tengah tetap memiliki risiko yang sama apabila kondisi cuaca semakin kering dan pengawasan tidak diperkuat.

“Tidak tertutup kemungkinan juga wilayah-wilayah lain akan terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

Dalam keterangannya, ia juga turut menyinggung lemahnya kebijakan mitigasi bencana karhutla di Kalimantan Tengah.

Menurutnya, penanganan selama ini masih terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur penanggulangan, sementara akar persoalan penyebab kebakaran belum benar-benar diselesaikan.

“Kelemahannya hari ini memang kita hanya fokus pada infrastruktur saja, tapi kebijakan mitigasi bencana di Kalimantan Tengah menurut kami belum utuh,” tegasnya.

Ia menilai pemerintah perlu lebih serius melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan lahan, khususnya gambut, menjadi sangat mudah terbakar.

Salah satunya berkaitan dengan aktivitas investasi dan pembukaan lahan yang terus berlangsung di kawasan gambut.

“Kita masih belum melihat kebijakan yang detail untuk menangani karhutla di Kalteng. Padahal kelemahan kita sebenarnya ada pada aspek mitigasi, misalnya evaluasi terhadap akar permasalahan dan faktor penyebab kenapa lahan mudah terbakar, khususnya di lahan gambut,” katanya.

Direktur Walhi Kalteng ini juga menyoroti maraknya aktivitas investasi di kawasan gambut yang dinilai memperbesar kerentanan lingkungan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, pembukaan lahan untuk proyek strategis nasional (PSN) disebut turut menambah tekanan terhadap ekosistem gambut di Kalimantan Tengah.

“Kalau kita melihat, banyak sekali aktivitas investasi yang berada di kawasan gambut dan cukup luas di Kalteng. Ditambah lagi beberapa tahun terakhir ada aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan di area PSN,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak karena kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, ekonomi, hingga aktivitas pendidikan dan transportasi akibat kabut asap.

"Belajar dari bencana asap besar yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah beberapa tahun lalu, kita berharap pemerintah tidak hanya fokus pada upaya pemadaman saat kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan dan perlindungan kawasan gambut sejak awal musim kemarau," pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#gambut #kebakaran #karhutla #musim kemarau #mitigasi