PALANGKA RAYA-Wacana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan kembali menguat setelah diusulkan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Di Kalimantan Tengah, gagasan tersebut mendapat dukungan penuh dari Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan, yang menilai keberadaan kereta api dapat menjadi solusi jangka panjang bagi distribusi sumber daya alam sekaligus mengurangi kerusakan jalan akibat angkutan logistik berat.
Menurut Bambang, pembangunan jaringan kereta api bukan sekadar proyek transportasi, melainkan langkah strategis untuk mendukung program hilirisasi yang tengah didorong pemerintah.
“Secara ekonomi ini sangat baik dan memang dibutuhkan daerah,” ujarnya saat berada di Ruang Komisi DPRD Kalteng, belum lama ini.
Ia menjelaskan, gagasan pembangunan kereta api sebenarnya bukan hal baru bagi Kalimantan Tengah. Wacana tersebut sudah muncul sejak masa kepemimpinan Gubernur Kalteng periode 2005–2015, Teras Narang. Sejak awal, konsep yang dirancang berfokus pada pengangkutan logistik dan sumber daya alam dari wilayah hulu menuju kawasan hilirisasi dan pelabuhan.
Bambang menilai, hingga saat ini keterbatasan infrastruktur transportasi masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan sektor ekonomi berbasis sumber daya alam di Kalimantan Tengah.
Aktivitas distribusi hasil tambang, perkebunan, dan komoditas lainnya masih sangat bergantung pada jalan umum yang pada dasarnya tidak dirancang untuk menampung kendaraan bertonase besar secara terus-menerus.
Akibatnya, kerusakan jalan kerap terjadi di berbagai wilayah. Tidak hanya itu, kondisi tersebut juga sering memicu keluhan masyarakat hingga konflik antara warga dan perusahaan yang menggunakan jalur logistik.
“Banyak jalan negara digunakan untuk aktivitas angkutan berat. Dampaknya kerusakan jalan sering terjadi dan muncul konflik antara masyarakat dengan perusahaan,” katanya.
Karena itu, ia memandang jalur kereta api dapat menjadi alternatif transportasi yang lebih efektif dan efisien. Selain mampu mengangkut muatan dalam jumlah besar, penggunaan kereta api juga dinilai dapat mengurangi beban jalan raya serta menekan biaya distribusi logistik dalam jangka panjang.
Meski demikian, Bambang mengingatkan agar pemerintah melakukan kajian yang matang sebelum proyek tersebut direalisasikan. Aspek pembiayaan menjadi perhatian penting agar pembangunan tidak menimbulkan beban fiskal yang berlebihan bagi negara.
“Kalau ini menjadi Proyek Strategis Nasional tentu harus didukung bersama. Tetapi jangan sampai pembiayaannya justru membebani negara dan rakyat,” tegasnya.
Ia optimistis, apabila terealisasi, pembangunan jalur kereta api akan memberikan dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah. Selain memperlancar distribusi komoditas unggulan daerah, proyek tersebut juga berpotensi membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan akhirnya tentu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kalimantan Tengah,” pungkasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana