PALANGKA RAYA – DPRD Kota Palangka Raya meminta pemerintah daerah memperkuat sistem pemantauan kualitas udara seiring mulai tercium kabut asap di sejumlah kawasan akibat meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, menegaskan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya harus memastikan Air Quality Monitoring System (AQMS) berfungsi optimal sehingga mampu menyajikan data kualitas udara yang cepat, akurat, dan mudah diakses masyarakat.
Menurutnya, keberadaan AQMS menjadi instrumen penting untuk mendeteksi perubahan kualitas udara, terutama saat musim kemarau ketika potensi karhutla mulai meningkat.
Baca Juga: Kabupaten Kotim Naikkan Status Karhutla dari Siaga Jadi Tanggap Darurat Selama 28 Hari
"Kami meminta DLH memastikan alat Air Quality Monitoring System berfungsi optimal dan menghasilkan data yang akurat. Informasi kualitas udara harus dapat diakses masyarakat sebagai dasar untuk meningkatkan kewaspadaan saat terjadi karhutla," ujar Khemal, Selasa (28/7/2026).
Khemal menjelaskan, AQMS bukan sekadar alat pemantau kualitas udara, tetapi juga menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan penanganan dampak kabut asap.
Apabila hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara mulai memburuk, pemerintah harus segera mengambil langkah mitigasi, mulai dari mengimbau masyarakat menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar ruangan, hingga menerapkan kebijakan lain sesuai tingkat pencemaran udara.
"Keakuratan data menjadi hal yang sangat penting. Karena itu, perawatan rutin dan kalibrasi berkala harus dilakukan agar hasil pemantauan dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar mencerminkan kondisi kualitas udara yang terjadi di lapangan," katanya.
Ia mengingatkan, alat pemantau yang tidak dirawat secara berkala berpotensi menghasilkan data yang kurang akurat sehingga dapat memengaruhi ketepatan pemerintah dalam mengambil keputusan saat menghadapi kondisi darurat lingkungan.
DLH Kalteng: Kualitas Udara Masih Baik hingga Sedang
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Tengah, Joni Harta, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui sembilan stasiun pemantauan yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Berdasarkan hasil pemantauan selama sepekan terakhir, kualitas udara di Kalimantan Tengah masih berada pada kategori baik hingga sedang, meskipun sejumlah daerah mulai menunjukkan potensi penurunan seiring meningkatnya kejadian karhutla.
"Kami mempunyai data pemantauan kualitas udara selama satu minggu terakhir yang dilakukan di kabupaten dan kota. Dari sembilan stasiun ISPU yang ada, memang kondisinya masih beragam. Ada yang masih kategori baik dan ada juga yang sudah masuk kategori sedang," katanya, Senin (27/7/2026).
Menurut Joni, pemantauan dilakukan setiap hari agar pemerintah dapat segera mengambil langkah apabila kualitas udara berubah menjadi kategori tidak sehat.
Baca Juga: Kabut Asap Tercium Menyengat Palangka Raya, Hotspot Juli 2026 Melonjak hingga 1.848 Titik
"Saat ini memang masih ada yang berada pada kategori sedang. Namun kami terus memantau perkembangannya. Kalau nanti kualitas udara semakin memburuk, tentu akan ada langkah-langkah lanjutan sesuai kondisi di lapangan," ujarnya.
Asap Dipicu Karhutla di Sejumlah Daerah
Joni mengungkapkan, bau asap yang mulai tercium di Palangka Raya tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah kota, tetapi juga dipengaruhi oleh karhutla di sejumlah kabupaten lain.
Beberapa daerah yang saat ini menjadi perhatian antara lain Kabupaten Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kotawaringin Barat. Selain itu, kondisi karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat juga dilaporkan lebih parah dibandingkan Kalimantan Tengah.
"Ada beberapa kabupaten yang memang kejadian karhutlanya cukup tinggi, seperti Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kotawaringin Barat. Bahkan kalau dibandingkan, kondisi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat saat ini justru lebih parah," katanya.
Ia menjelaskan, semakin banyak titik api yang muncul, semakin besar pula potensi terbentuknya kabut asap.
"Semakin banyak titik api yang muncul, tentu potensi asap juga semakin besar. Apalagi tingkat kebakaran mulai meningkat dibandingkan sebelumnya," ujarnya.
Menurut Joni, asap paling pekat umumnya berasal dari kebakaran di kawasan gambut karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.
"Kalau kebakaran terjadi di kawasan gambut, dampak asapnya memang jauh lebih besar. Penanganannya juga lebih sulit dibandingkan tanah mineral karena air harus benar-benar masuk ke dalam lapisan gambut untuk mematikan bara api," jelasnya.
DLH Perkuat Pencegahan Karhutla
Joni mengatakan, minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir turut memperberat upaya pemadaman kebakaran. Meski sempat turun hujan di beberapa wilayah, intensitasnya belum cukup untuk memadamkan api secara alami.
Ia menjelaskan, DLH memiliki tugas pada aspek pencegahan dan pemulihan lingkungan, sedangkan penanganan kebakaran di lapangan dilakukan oleh BPBD, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, serta instansi terkait lainnya.
Sejak beberapa bulan terakhir, DLH telah melakukan berbagai langkah pencegahan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, pemasangan spanduk larangan membakar lahan, hingga patroli dan edukasi bersama Pokja REDD+ di kawasan rawan karhutla.
Baca Juga: Dinkes Kalteng Siapkan Dua Rumah Singgah Oksigen, Ajak Warga Siap Hadapi Potensi KLB Asap
"Kalau di DLH memang lebih kepada aspek pencegahan. Kami sudah melakukan sosialisasi sejak beberapa bulan lalu, memasang spanduk, dan ke depan kembali turun bersama Pokja REDD+ untuk patroli sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat," ungkapnya.
Meski kualitas udara saat ini masih berada pada kategori baik hingga sedang, Joni mengingatkan kondisi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu apabila jumlah titik api terus bertambah, terlebih Agustus diperkirakan menjadi puncak musim kemarau.
"Untuk saat ini kualitas udara masih dinamis, ada yang baik dan ada yang sedang. Tetapi satu minggu ke depan kondisinya bisa berubah. Karena itu kami terus melakukan pemantauan," katanya.
Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar kebakaran tidak meluas.
"Di samping upaya teknis yang dilakukan pemerintah sesuai tugas masing-masing, tentu kita juga berharap kondisi cuaca segera membaik dan hujan segera turun agar potensi karhutla dapat berkurang," pungkasnya.(*)
Editor : Agus Pramono