PALANGKA RAYA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, masih terus dilakukan. Sebanyak tiga helikopter water bombing (WB) dan empat unit hexa dikerahkan untuk membantu mengendalikan kebakaran, terutama menyekat pergerakan api yang mengarah ke kawasan Tanjung Taruna.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Alpius Patanan mengatakan, penanganan dilakukan Satgas Karhutla provinsi dan kabupaten dengan dukungan penuh TNI, Polri serta sejumlah instansi terkait.
Baca Juga: 2.200 MPA Dikerahkan Menanggulangi Karhutla Kalteng, Perusahaan Sawit Perkuat Sinergi Pemadaman
“Penanganan di Tb Nusa masih terus dilaksanakan satgas karhutla provinsi dan kabupaten di dukung penuh TNI Polri dan instansi terkait lainnya. Helikopter WB yang dikerahkan sebanyak 3 unit, hexa sebanyak 4 unit (2 dari Dishut Prov dan 2 dari Pemkab Pulpis) utk penyekatan pergerakan api yang ke arah Tanjung Taruna. Semoga beberapa hari ke depan semakin terkendali,” kata Alpius saat dihubungi secara daring, Rabu (5/8/2026)
Berdasarkan laporan sementara, luas areal yang telah ditangani mencapai 122,29 hektare.
Namun, angka tersebut belum menggambarkan luas keseluruhan kawasan yang terdampak kebakaran karena proses penanganan masih berlangsung.
Alpius menjelaskan, penghitungan luas akhir nantinya dilakukan melalui metode digitasi citra satelit oleh Tim Hitung Luas Kementerian Kehutanan.
Baca Juga: Kabut Asap di Palangka Raya Makin Pekat, Pemko Siap Tambah Personel Penanganan Karhutla
“Masih proses penanganan, luasan akan dihitung secara digitasi citra satelit oleh Tim Hitung Luas Kementerian Kehutanan,” ujarnya.
BTT Cair Rp3 Miliar
Meningkatnya kejadian karhutla turut berdampak terhadap kebutuhan operasional di lapangan.
Pemerintah telah melakukan pergeseran tahap pertama Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp3 miliar untuk mendukung operasi penanganan karhutla.
Anggaran tersebut semula direncanakan untuk mendukung operasi selama 70 hari terhitung sejak operasi dimulai pada 11 Juli 2026.
Baca Juga: Polri Intensifkan Penanganan Karhutla di Kalteng, Lahan Gambut di Palangka Raya Masih Berasap
Namun, peningkatan kejadian karhutla yang diikuti penambahan jumlah personel di lapangan membuat jangka waktu penggunaan anggaran diperkirakan menjadi lebih pendek dibandingkan rencana awal.
“Untuk BTT, sudah dilakukan pergeseran tahap I sebesar Rp 3 Miliar, yg semula direncanakan untuk operasi selama 70 hari tetapi dengan kondisi karhutla yang mengalami peningkatan maka jangka waktunya menjadi lebih pendek lagi karena ada peningkatan jumlah pasukan di lapangan,” jelas Alpius.
Di luar upaya pemadaman yang sedang berlangsung, Alpius menilai persoalan karhutla di Tumbang Nusa membutuhkan penanganan jangka panjang secara menyeluruh. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mendorong pemanfaatan lahan agar lebih produktif sesuai karakteristik kawasan.
“Penanganan jangka panjang harus dilakukan secara holistik, terutama supaya areal tersebut bisa produktif sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat atau pemiliknya, dengan demikian, diharapkan penjagaan nya akan lebih baik lagi,” katanya.
Menurutnya, ketika lahan memiliki nilai ekonomi dan dikelola secara produktif, masyarakat maupun pemilik lahan diharapkan memiliki kepentingan lebih besar untuk menjaga kawasan dari ancaman kebakaran.
Selain pemanfaatan lahan, perbaikan tata air juga menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang. Pemeliharaan saluran air dan akses jalan diperlukan untuk menjaga kondisi kawasan sekaligus mendukung penanganan apabila kebakaran kembali terjadi.
“Perbaikan tata air, pemeliharaan saluran saluran air dan akses jalan, sehingga tata air dapat dipelihara, dukungan pengelolaan lahan lahan masyarakat sehingga bisa produktif sesuai karakteristik lahannya,” ujarnya.
Baca Juga: Dilema BPBD Kotim Ketika Karhutla Meluas: Distribusi Air Bersih atau Pemadaman
Alpius juga menekankan perlunya memperkuat kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), terutama ketika memasuki musim kemarau.
Dukungan yang memadai dinilai dapat membantu masyarakat melakukan penanganan lebih cepat ketika muncul kebakaran sekaligus memperkuat pencegahan di wilayah masing-masing.
“Termasuk dukungan kepada kelompok Masyakat Peduli Api ketika musim kemarau, sehingga mereka miliki dukungan yang cukup dalam melakukan penanganan cepat jika ada kejadian, bahkan dapat mencegah terjadinya kebakaran di wilayah mereka,” pungkasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana