BMKG Prediksi Awan Hujan Tumbuh di Kalteng: Modifikasi Cuaca, dan Peluang Turunnya Hujan

Dea Umilati • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:40 WIB
Tumpukan ban bekas terbakar.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Tumpukan ban bekas terbakar.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

PALANGKA RAYA- Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih membayangi Kalimantan Tengah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi pertumbuhan awan hujan dengan potensi tinggi di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah pada Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026).

Kondisi tersebut membuka peluang dilakukannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan potensi terbentuknya hujan, terutama di wilayah yang membutuhkan dukungan untuk mengendalikan dampak karhutla.

Baca Juga: Lebih 2.000 Kasus ISPA Tercatat di Kotim Sepanjang Agustus 2026

Prakirawan BMKG, Ihsan Sidiq, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memang memiliki potensi untuk disemai.

“OMC merupakan intervensi terhadap awan yang ada di atmosfer, sehingga OMC dilakukan ketika ada pertumbuhan awan yang potensial untuk disemai,” jelas Ihsan, Senin (7/9/2026).

Artinya, penerbangan OMC tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Keberadaan awan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah penyemaian dapat dilaksanakan.

Dengan adanya prediksi pertumbuhan awan hujan yang cukup tinggi di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah dalam dua hari ke depan, peluang untuk melakukan intervensi terhadap awan pun menjadi lebih terbuka.

Berdasarkan pemantauan BMKG, kondisi atmosfer dalam beberapa hari ke depan menunjukkan adanya peluang pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Baca Juga: Penantian 2 Bulan, Hujan Guyur Sejumlah Wilayah Kotim, Warga Berharap Asap Karhutla Mereda

“Untuk hari ini dan esok hari, potensi pertumbuhan awan hujan dengan potensi tinggi diprediksi berpotensi di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Potensi tersebut menjadi kabar positif di tengah kebutuhan hujan untuk membantu menurunkan tingkat kekeringan permukaan dan mengurangi potensi kemudahan terbakar.

Namun, keberadaan awan hujan tidak serta-merta berarti seluruh wilayah akan langsung mendapatkan hujan dengan intensitas yang sama. Kondisi atmosfer dan perkembangan awan tetap menjadi faktor yang menentukan hujan yang terjadi di masing-masing wilayah.

Karena itu, pemantauan cuaca secara berkala tetap diperlukan untuk menentukan wilayah dan waktu yang paling memungkinkan dilakukan OMC.

BMKG juga melihat adanya perkembangan yang cukup positif terkait kondisi kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah.

Baca Juga: Kemarau dan Karhutla Berdampak Kepada Hasil Panen dan Pendapatan Petani di Sampit

Untuk kondisi esok hari, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah diprediksi berada dalam kondisi yang relatif aman jika dilihat dari parameter cuaca yang memengaruhi kemudahan terbakar pada lapisan sekitar 1–2 sentimeter di atas permukaan tanah.

Kondisi tersebut diharapkan semakin membaik apabila potensi hujan benar-benar terjadi.

“Dilihat dari potensi kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah, 1–2 cm di atas permukaan tanah, berdasarkan parameter cuaca khususnya untuk esok hari di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah diprediksi dalam kondisi aman,” kata Ihsan.

Menurutnya, hujan yang terjadi diharapkan dapat membantu mendinginkan kondisi lapisan atas permukaan tanah sehingga potensi terjadinya kebakaran di permukaan dapat ditekan.

Meski peluang hujan cukup terbuka, BMKG mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak terkait agar tidak lengah, terutama dalam menghadapi ancaman kebakaran di kawasan lahan gambut.

Baca Juga: Polri Intensifkan Penanganan Karhutla di Kalteng, Lahan Gambut di Palangka Raya Masih Berasap

Pasalnya, kondisi aman pada lapisan permukaan belum berarti seluruh lapisan tanah terbebas dari ancaman kebakaran.

BMKG memprediksi lapisan tanah pada kedalaman 5–10 sentimeter dan lebih dari 10 sentimeter di bawah permukaan masih berada dalam kondisi yang sangat mudah terbakar, khususnya pada lahan gambut.

“Namun tetap perlu diwaspadai, khususnya untuk lahan gambut, baik yang sudah terbakar atau belum. Diprediksi meskipun ada potensi hujan, kondisi lapisan menengah, 5–10 cm di bawah tanah, dan lapisan bawah permukaan tanah, lebih dari 10 cm di bawah permukaan tanah, masih diprediksi dalam kondisi yang sangat mudah terbakar,” jelasnya.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa.

Hujan yang membasahi permukaan belum tentu mampu membuat seluruh lapisan gambut menjadi benar-benar basah. Pada kondisi tertentu, bara api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila kondisi kembali panas dan kering.

Baca Juga: Air Sungai Mentaya Tak Lagi Bisa Dipakai, 3 Desa di Pulau Hanaut Krisis Air Bersih

Karena itu, turunnya hujan nantinya tetap perlu diikuti dengan pemantauan terhadap kawasan yang sebelumnya terbakar maupun wilayah gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, pemerintah telah menyiapkan 31 ton bahan semai berupa garam atau natrium klorida (NaCl) untuk mendukung OMC sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

“Bahan semai yang disiapkan sebanyak 31 ton garam atau NaCl,” katanya.

Namun, banyaknya bahan semai yang tersedia tidak otomatis membuat hujan bisa diturunkan. OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, khususnya keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

Dalam pelaksanaan OMC terbaru, sebanyak 800 kilogram bahan semai telah ditebar dalam penerbangan selama 2 jam 8 menit. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan hujan seperti yang diharapkan.

Baca Juga: Ada 22 Rumah dan Ruang Oksigen yang Tersebar di Palangka Raya

Persoalannya bukan pada ketersediaan garam maupun armada pesawat. Awan yang menjadi sasaran penyemaian justru belum tumbuh secara optimal.

“Jika BMKG mendeteksi adanya pertumbuhan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian, penerbangan dapat dilaksanakan guna memaksimalkan potensi terbentuknya hujan,” ujarnya.

Artinya, pesawat OMC tidak bisa setiap saat diterbangkan untuk menebarkan bahan semai. 

Penerbangan harus menunggu momentum ketika kondisi atmosfer menyediakan awan yang potensial untuk diintervensi.

Pemantauan dari BMKG menjadi salah satu penentu sebelum operasi dilakukan. Ketika awan yang memenuhi kriteria terdeteksi, barulah penerbangan dapat diarahkan ke lokasi tersebut.

Sebelumnya, OMC tahap pertama di Kalteng yang berlangsung pada 16 hingga 30 Juni 2026 telah melaksanakan 31 sorti penerbangan dengan total waktu terbang mencapai 63 jam 18 menit.

Baca Juga: Modifikasi Cuaca di Kalteng Tunggu Potensi Awan Hujan

Dalam periode tersebut, seluruh bahan semai yang disiapkan sebanyak 31.000 kilogram atau 31 ton NaCl telah digunakan.

"Pelaksanaan OMC menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di tengah kondisi yang berpotensi memicu karhutla," katanya.

Namun, hasil operasi tetap sangat bergantung pada dinamika atmosfer. Ketika tidak terdapat awan yang cukup potensial, bahan semai tidak dapat digunakan secara efektif.

Pemerintah juga terus memperkuat dukungan terhadap pelaksanaan OMC. 

Selain menyiapkan bahan semai, BNPB menempatkan tambahan armada pesawat di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Penambahan armada tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan operasi sekaligus mempercepat respons ketika awan potensial terdeteksi oleh BMKG.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
awan hujan bmkg karhutla lahan gambut OMC Kalteng