Zina

Rohansyah • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:07 WIB
Rohansyah
Rohansyah

 

SEORANG pemuda datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia mengajukan permintaan yang membuat para sahabat terkejut.

“Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.”

Permintaan itu terdengar begitu berani. Para sahabat yang mendengarnya pun menegur pemuda tersebut.

Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak langsung memarahinya. Beliau justru meminta pemuda itu mendekat.

“Apakah engkau rela jika hal itu terjadi pada ibumu?” tanya Rasulullah.

“Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah,” jawab pemuda itu.

“Begitu pula orang lain tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu mereka,” jelas beliau.

Rasulullah kemudian bertanya lagi. Bagaimana jika terjadi dengan putrimu?

“Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah,” jawab pemuda itu lagi.

“Begitu pula orang lain tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu mereka,” tambah beliau.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun terus bertanya, baimana kalau terjadi dengan saudara perempuannya, bibinya dari pihak ayah, dan bibinya dari pihak ibu? Setiap kali ditanya, pemuda itu menjawab tidak rela jika hal tersebut menimpa mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu meletakkan tangan beliau di dada pemuda itu dan mendoakannya agar Allah mengampuni dosanya, membersihkan hatinya, serta menjaga kehormatannya.

Kisah ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad. 

Perhatikan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak sekadar melarang. Beliau mengajak pemuda itu melihat persoalan dari sudut pandang orang lain, hingga hatinya memahami apa yang sebelumnya mungkin hanya ia pikirkan sebagai keinginannya sendiri.

Terkadang, seseorang tahu, suatu perbuatan salah, tetapi keinginan sesaat membuatnya lupa memikirkan akibatnya.

Nasihat yang paling menyentuh bukan selalu nasihat yang keras, melainkan nasihat yang membuat seseorang mampu bercermin.

Kita sering ingin orang lain menjaga kehormatan keluarga kita, menghormati pasangan kita, dan tidak menyakiti orang-orang yang kita cintai. Namun, apakah kita sudah memberikan penghormatan yang sama kepada orang lain?

Rasulullah mengajarkan, menasihati bukan berarti mempermalukan. Ada kalanya seseorang lebih membutuhkan bimbingan yang menyentuh hati daripada teguran yang menjatuhkan harga dirinya.

Sebab, tujuan nasihat bukan memenangkan perdebatan, melainkan membantu seseorang menemukan jalan kembali kepada kebaikan.

Sebelum melakukan sesuatu kepada orang lain, tanyakan kepada diri sendiri: jika hal yang sama terjadi pada orang yang paling kita cintai, apakah kita rela? Barakallahu fiikum. (*)

Editor : Agus Pramono
zina pena