PALANGKA RAYA-Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalimantan Tengah (Kalteng), JMT Pandiangan, menyoroti anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi mendadak dalam beberapa hari terakhir.
Ia menduga penurunan harga tersebut merupakan permainan pihak pabrik kelapa sawit (PKS), bukan dampak langsung dari kebijakan pemerintah pusat.
Menurut Pandiangan, penurunan harga sawit mulai terjadi setelah muncul pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait rencana penerapan ekspor crude palm oil (CPO) satu pintu. Namun ia menilai, kondisi itu justru dimanfaatkan pihak tertentu untuk menggiring opini publik.
“Tidak ada alasan harga TBS turun mendadak seperti sekarang. Ini diduga permainan pihak pabrik yang mencoba memanfaatkan situasi,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Ia mengungkapkan, persoalan tersebut sebelumnya juga telah dibahas dalam rapat antara wakil menteri bersama asosiasi petani sawit. Dalam pertemuan itu, pemerintah meminta agar pihak PKS segera mengembalikan harga sawit agar petani tidak terus dirugikan.
“Artinya memang tidak ada faktor yang membuat harga TBS harus turun drastis. Karena itu kami minta persoalan ini diusut tuntas,” tegasnya.
Pandiangan juga menilai ada upaya mengadu domba masyarakat dengan pemerintah melalui isu turunnya harga sawit. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu kesalahpahaman di kalangan petani jika tidak segera diluruskan.
“Jangan sampai masyarakat dibuat marah kepada pemerintah dan Presiden akibat kondisi ini. Ini harus dijelaskan secara terbuka,” katanya.
Ia berharap pemerintah pusat turun tangan lebih serius mengawasi tata niaga sawit dan menindak pihak-pihak yang diduga memainkan harga di tingkat pabrik.
Selain itu, Pandiangan meminta insan pers ikut mengawal persoalan sawit dengan pemberitaan yang objektif dan tegas agar masyarakat mengetahui fakta sebenarnya di lapangan.
“Wartawan juga harus tegas memberitakan persoalan ini supaya publik tahu apa yang sebenarnya terjadi,” pungkasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana