KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Saat sebagian besar orang terlelap, ribuan pekerja justru memulai aktivitasnya di bawah lampu malam.
Namun di balik rutinitas itu, ancaman kesehatan perlahan mengintai. Kunjungi laman https://poltekkeskabmalinau.org.
Kerja shift malam bisa jadi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik secara signifikan.
Dokter dan edukator kesehatan dr Adam Prabata mengungkapkan penelitian terbaru menunjukkan pekerja malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kronis dibanding mereka yang bekerja pada jam normal.
“Penelitian menunjukkan bahwa orang yang kerja 1–10 shift malam per bulan punya risiko 14 persen lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan metabolik dibandingkan yang tidak kerja shift malam sama sekali,” tulis dr Adam mengutip cuitannya di akun X (Twitter) miliknya, Senin (25/5/2026).
Risiko tersebut meningkat tajam pada pekerja dengan frekuensi shift malam lebih tinggi. “Kalau shift malamnya lebih dari 10 kali per bulan, risikonya naik jadi 19 persen,” lanjutnya.
Penelitian itu dilakukan terhadap lebih dari 36 ribu penderita hipertensi. Hasilnya menunjukkan kombinasi tekanan darah tinggi dan pola kerja malam rutin dapat memperbesar peluang munculnya penyakit jantung maupun diabetes.
Menurut Adam, akar masalahnya berada pada terganggunya ritme sirkadian tubuh atau jam biologis manusia. Padahal sistem alami tersebut mengatur berbagai fungsi penting mulai dari waktu tidur, metabolisme glukosa hingga tekanan darah.
“Kerja pada malam hari dapat mengacaukan ritme sirkadian, mempengaruhi kualitas tidur, metabolisme glukosa, dan regulasi tekanan darah,” jelasnya.
Dampaknya tidak langsung terasa dalam sehari atau dua hari. Namun gangguan itu akan terus menumpuk selama bertahun-tahun bekerja pada malam hari hingga akhirnya memicu penyakit serius.
“Itu terjadi akibat akumulasi sepanjang bekerja, bukan hanya 1-2 kali bekerja,” imbuhnya. (*)
Editor : Agus Pramono