Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

BMKG Sampit Beberkan soal Potensi Rentang Waktu Musim Kemarau di Kotim Tahun 2026

Miftahul Ilma • Kamis, 9 April 2026 | 14:00 WIB
Pemadaman lahan terbakar akibat musim kemarau. BPBD KOTIM
Pemadaman lahan terbakar akibat musim kemarau. BPBD KOTIM

SAMPIT-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Baca Juga: Mulai Akhir Mei, Musim Kemarau Kalteng Diprediksi Lebih Panjang dan Kering, Berikut Daerah yang Mengalami Versi BMKG

Kepala Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Kotim, khususnya bagian utara, diperkirakan mulai pada dasarian pertama Juni atau sekitar 1 Juni 2026.

“Kami dari BMKG sudah membuat rilis ya terkait awal musim kemarau 2026. Jadi untuk Kotim bagian utara kecuali Teluk Sampit sama Pulau Hanaut itu awal musim kemarau di Juni dasarian 1 atau di tanggal 1 Juni awal musimnya,” ujarnya, Kamis (9/4/2026). 

Ia menyebutkan, durasi musim kemarau di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 120 hari, atau berlangsung hingga akhir September 2026. Durasi ini dinilai lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga: Kabupaten Kotim Resmi Tetapkan Status Siaga Karhutla dan Kekeringan Hingga Oktober 2026

“Terus durasinya sekitar 120 hari, kira-kira sampai akhir September seperti itu. Lebih panjang dari normalnya,” lanjutnya.

Sementara itu, untuk wilayah Teluk Sampit dan Pulau Hanaut, awal musim kemarau diprediksi sedikit lebih lambat, yakni pada dasarian ketiga Juni atau sekitar 21 Juni 2026.

“Di wilayah Teluk Sampit sama Pulau Hanaut itu dia awal musim kemarau di Juni 3 atau di sekitar tanggal 21 Juni. Terus lamanya sekitar 10 dasarian, jadi jatuhnya sekitar sama di 30 September,” jelasnya.

Mulyono juga mengungkapkan bahwa puncak musim kemarau di Kotim diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Baca Juga: Waspada! Risiko Karhutla di Kalimantan Tengah Diprediksi Kian Meningkat Pada Mei 2026

Terkait kondisi kelembapan udara, ia menyebutkan masih berada dalam kisaran normal, meski cenderung lebih kering saat siang hari.

“Kalau di Kotim ini kelembaban udaranya relatif ya, tapi kalau secara pantauan kami itu kelembaban udaranya kalau di pagi hari itu masih berkisar antara 95 sampai 100 dan kemungkinan pas di siang hari kemungkinan sudah di atas 70-80 persen,” ujarnya.

Menurutnya, secara umum kelembapan saat musim kemarau berada di kisaran 70 hingga 90 persen, namun tetap perlu diwaspadai karena durasi kemarau yang panjang dapat meningkatkan potensi kekeringan.

BMKG juga memprediksi adanya potensi fenomena El Nino dengan kategori lemah hingga moderat pada tahun ini, meski kemungkinan masih dapat berubah.

Baca Juga: El Nino Datang Mengancam, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan di Seluruh Indonesia

“Secara prediksi kami, kita memprediksi kemarau tahun ini datangnya lebih awal, terus durasinya lebih panjang, dan kemungkinan besar potensi El Nino lemah dan moderat akan terjadi di tahun ini,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap potensi karhutla.

“Untuk imbauan ke masyarakat, yang pertama jangan membakar hutan dan lahan karena kita lihat perkiraannya lumayan panjang ya. Terus yang kedua jaga kesehatan, yang ketiga gunakan air secara bijak, yang keempat banyak-banyak olahraga,” tandasnya.(mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#fenomena el nino #bmkg #musim kemarau #Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) #kekeringan