SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengungkapkan seluruh kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini telah masuk kategori sangat mudah terbakar seiring berlangsungnya musim kemarau.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan status tersebut telah terjadi sejak pertengahan Juni setelah hampir seluruh wilayah mengalami minim hujan dan cuaca panas berkepanjangan.
“Semua. Seluruh kecamatan sudah merah semua, sangat mudah terbakar,” katanya, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga: Polda Kalteng Mulai Operasi Aman Nusa II, Kapolda Iwan Kurniawan Tekankan Pencegahan Karhutla
Menurut Mulyono, kategori tersebut diberikan ketika suatu wilayah mengalami beberapa hari tanpa hujan disertai suhu udara yang panas sehingga api akan cepat menyebar apabila terjadi pembakaran.
“Daerah itu sangat mudah terbakar karena beberapa hari tidak ada hujan dan kondisi cuacanya mendukung. Kalau terjadi pembakaran, api akan mudah menyebar,” ujarnya.
BMKG memperkirakan kondisi kering masih akan berlangsung hingga akhir Oktober. Peluang hujan dalam waktu dekat juga dinilai sangat kecil sehingga potensi karhutla masih tinggi.
“Kemarau kita prediksi sampai akhir Oktober. Hujan masih ada, tetapi sangat kecil, hanya spot-spot,” jelasnya.
Baca Juga: BPBD Kotim Kaji Kenaikan Status dari Siaga Menjadi Tanggap Darurat Karhutla
Di sisi lain, ia mengingatkan arah angin yang saat ini didominasi dari selatan, tenggara, hingga timur dapat memperparah dampak karhutla. Apabila kebakaran banyak terjadi di wilayah selatan Kotim, asap berpotensi bergerak menuju Kota Sampit.
“Kalau kebakaran hutan dan lahan banyak di daerah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit. Itu yang kita takutkan,” tegas Mulyono.
Meski sempat tercium bau asap pada malam hari, BMKG menyebut kondisi cuaca di Kota Sampit hingga kini masih tergolong baik dan jarak pandang masih aman.
Namun masyarakat diminta tetap waspada mengingat seluruh wilayah Kotim saat ini berada pada tingkat kerawanan kebakaran tertinggi. (*)
Editor : Agus Pramono