PALANGKA RAYA-Pendiri Yayasan Kalaweit, Aurélien Chanee Brulé, atau yang akrab dikenal dengan Chanee Kalaweit mengajak Menteri Kehutanan melakukan penerbangan menggunakan pesawat ringan guna melihat langsung kondisi Kawasan.
Dalam penerbangan yang diaploud di akun Youtubenya, Chanee menunjukkan jika ada lubang tambang batu bara yang belum direklamasi. Parahnya lagi, di depan sang Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dia menunjukkan kebun sawit yang diduga tumbuh di kawasan hutan.
“Kami bisa berdiskusi dengan dasar yang jelas. Ini pertama kali terjadi selama saya di Indonesia, bicara empat mata dengan menteri secara terbuka tentang masa depan konservasi,” katanya, Senin (8/12/2025).
Pria kelahiran Prancis itu berharap momentum tersebut berlanjut dan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih kuat dalam perlindungan hutan dan alam di Indonesia. Ia menegaskan bahwa NGO bukan hanya berteriak soal kerusakan, tetapi juga membawa saran dan solusi.
“Harus teriak, tetapi tidak asal teriak. Pada saat tertentu kita harus mampu memberi saran kepada siapa saja, apalagi menteri yang bisa mengambil kebijakan,” ujar Chanee.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan konservasi membutuhkan penegakan hukum yang tegas dan kebijakan yang berpihak pada alam, termasuk dukungan dari Presiden.
Kerusakan yang terjadi selama puluhan tahun menurutnya tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.
“Kerusakan terjadi selama beberapa dekade. Tidak mungkin dalam 6 bulan atau 1 tahun selesai. Kita harus berinvestasi dalam waktu,” katanya.
Chanee kembali mengajak seluruh pihak untuk menjaga hutan dan alam tersisa demi generasi yang akan datang.
“Alam sudah cukup mengingatkan kita akhir-akhir ini. Marilah kita bersama lestarikan alam untuk masa depan kita,” pungkasnya.
Pada awal pernyataannya, Chanee menegaskan kembali pentingnya investasi dalam perlindungan alam, bukan hanya untuk menjaga ekosistem, tetapi juga masa depan masyarakat.
Ia mencontohkan berbagai bencana ekologis yang kini menimpa sejumlah wilayah, terutama di Sumatera, sebagai dampak dari kerusakan lingkungan yang terus terjadi.
“Kalau kita berinvestasi dalam usaha perlindungan alam, kita sebenarnya investasi untuk masa depan kita sendiri. Sebaliknya, kalau kita berinvestasi dalam kerusakan alam, tentu saja kita akan menuju bencana seperti yang kita lihat sekarang,” ujarnya.(mif)
Editor : Ayu Oktaviana