Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Mulai Akhir Mei, Musim Kemarau Kalteng Diprediksi Lebih Panjang dan Kering, Berikut Daerah yang Mengalami Versi BMKG

Agus Pramono • Selasa, 31 Maret 2026 | 19:00 WIB

Sungai Kahayan surut. DOK KALTENG POS
Sungai Kahayan surut. DOK KALTENG POS

 

PALANGKA RAYA–BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Provinsi Kalimantan Tengah akan berlangsung lebih kering dari kondisi normal. Sejumlah wilayah bahkan diperkirakan mengalami penurunan curah hujan yang cukup signifikan.

Prakirawan BMKG Ika, menjelaskan bahwa awal musim kemarau di Kalteng tidak terjadi serentak, melainkan bertahap mulai akhir Mei hingga akhir Juni 2026.

“Awal musim kemarau untuk wilayah Kalteng dimulai pada Mei dasarian III hingga Juni dasarian III, atau sekitar akhir Mei sampai akhir Juni 2026,” katanya, Senin (30/3/2026).

Ia mengungkapkan, sifat musim kemarau tahun ini diprediksi bawah normal, yang berarti kondisi akan lebih kering dibandingkan rata-rata tahun-tahun sebelumnya. Hal ini ditandai dengan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah.

BMKG mengidentifikasi daerah-daerah yang akan mengalami musim kemarau lebih jelas, meliputi Kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Seruyan (kecuali bagian utara), Kotawaringin Timur, Katingan (kecuali bagian utara), Gunung Mas bagian selatan, Kota Palangka Raya, Pulang Pisau, Kapuas (kecuali bagian utara), Murung Raya bagian selatan, Barito Utara (kecuali bagian utara), Barito Timur, hingga Barito Selatan.

Tabel peta risiko bencana kekeringan di Kalimantan Tengah
Tabel peta risiko bencana kekeringan di Kalimantan Tengah

Sementara itu, wilayah bagian utara Kalteng memiliki karakteristik berbeda. Meski terjadi penurunan curah hujan, intensitasnya belum memenuhi kriteria musim kemarau secara klimatologis karena dalam satu bulan masih terdapat curah hujan yang cukup.

“Wilayah Kalteng bagian utara itu tipe pola hujan tipe I, jadi meskipun terjadi penurunan curah hujan, dalam tiga dasarian berturut-turut belum tentu masuk kategori musim kemarau,” jelasnya.

Untuk sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam agar tidak memasuki fase kritis saat puncak kekeringan. Petani juga disarankan menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih pendek.

Baca Juga: Isu Adanya Room Karaoke di RSUD Gusti Abdul Gani, DPRD Lamandau Langsung Sidak, Direktur Rumah Sakit Sebut Foto Rekayasa AI

Selain itu, pengelolaan air menjadi kunci, baik melalui optimalisasi irigasi, pemanfaatan sumur resapan, maupun penyimpanan cadangan air melalui kolam retensi atau penampungan air hujan sejak masa transisi.

"Penting sekali untuk melakukan pemantauan hama dan penyakit tanaman yang cenderung meningkat saat awal hingga puncak musim kemarau," tuturnya.

Di sektor sumber daya air, masyarakat diimbau menjaga keberlanjutan sumber air dengan tidak mencemari sungai dan sumur, serta aktif dalam kegiatan penghijauan untuk meningkatkan daya serap tanah.

Pemerintah daerah juga didorong melakukan langkah mitigasi seperti revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi air, hingga edukasi penggunaan air secara bijak selama musim kemarau.

Sementara itu, pada sektor kehutanan dan kebencanaan, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.

“Pengelolaan air secara efisien, penggunaan tanaman tahan kekeringan, serta kesiapsiagaan terhadap karhutla menjadi langkah penting yang harus dilakukan,” pungkasnya.(zia/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#curah hujan #bmkg #Kesiapsiagaan #kemarau #karhutla #klimatologis #sektor pertanian #musim kemarau #Kabupaten Kotawaringin Barat #penampungan air hujan