PALANGKA RAYA – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng diprediksi meningkat pada 2026 seiring masuknya musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga lebih dari lima bulan.
Musim kemarau diperkirakan mulai dari wilayah selatan Kalimantan pada Mei 2026 dan berpotensi memicu peningkatan karhutla secara signifikan.
Baca Juga: Mentan Andi Amran: Stok Pangan RI Aman hingga 11 Bulan ke Depan, Siap Menghadapi El Nino Godzilla
Berdasarkan data BPBD, hingga 5 April 2026 tercatat sebanyak 212 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 365,43 hektare. Sementara itu, total hotspot sejak awal tahun mencapai 970 titik.
BENCANA KALTENG 2026
(Kejadian Periode 1 Januari-5 April)
Karhutla 215
Banjir 10
Cuaca Ekstrem 27
Abrasi 1
Tanah Longsor 0
Kekeringan 4
Kebakaran Pemukiman 45
TOTAL 302
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama, mengatakan pihaknya telah menerima peringatan dini terkait kondisi tersebut, termasuk potensi dampak fenomena El Nino.
“Untuk personel dan sarana prasarana pada dasarnya kita sudah siap, karena sudah ada peringatan dini dari BMKG tentang akan terjadinya musim kemarau yang diprediksi akan diikuti fenomena El Nino,” ujarnya saat dihubungi, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Pemerintah Sesumbar! Tegaskan Berpengalaman Hadapi El Nino Godzilla, Terparah di Tahun 2015
Indra menegaskan, meskipun kesiapan personel dan peralatan telah dilakukan, keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada koordinasi lintas pihak dan kesadaran masyarakat.
“Yang perlu diperkuat adalah koordinasi semua pihak dan kesadaran masyarakat akan bahaya kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya seperti kabut asap,” tegasnya.
Ia bahkan menyoroti bahwa mayoritas kejadian karhutla disebabkan oleh ulah manusia.
Baca Juga: Kemarau Panjang Mengintai, Pemko Palangka Raya Sudah Aktifkan 21 Pos Lapangan untuk Pantau Karhutla
“Boleh dikatakan 99,99 persen karhutla terjadi akibat ulah manusia. Artinya, bencana ini sebenarnya bisa dihindari jika tidak ada pembakaran lahan secara tidak terkendali,” ungkapnya.
Saat ini, upaya yang dilakukan lebih difokuskan pada pencegahan dan pemadaman dini guna menekan potensi meluasnya kebakaran.
Baca Juga: BMKG Sarankan Petani Pilih Varietas Tahan Kering, Antisipasi Kemarau Panjang
Di sisi lain, dalam kondisi efisiensi anggaran, pemerintah tetap akan memprioritaskan penanganan bencana, terutama jika terjadi dalam skala besar. “Sekarang lebih kepada upaya cegah dini dan pemadaman dini,” pungkasnya. (*rif/ala)
Editor : Ayu Oktaviana