Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Waspada! Risiko Karhutla di Kalimantan Tengah Diprediksi Kian Meningkat Pada Mei 2026

rifqi • Selasa, 7 April 2026 | 09:52 WIB
Ilustrasi karhutla di Kalteng. DOK AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Ilustrasi karhutla di Kalteng. DOK AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 


PALANGKA RAYA – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng diprediksi meningkat pada 2026 seiring masuknya musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga lebih dari lima bulan.

Musim kemarau diperkirakan mulai dari wilayah selatan Kalimantan pada Mei 2026 dan berpotensi memicu peningkatan karhutla secara signifikan.

Baca Juga: Mentan Andi Amran: Stok Pangan RI Aman hingga 11 Bulan ke Depan, Siap Menghadapi El Nino Godzilla

Berdasarkan data BPBD, hingga 5 April 2026 tercatat sebanyak 212 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 365,43 hektare. Sementara itu, total hotspot sejak awal tahun mencapai 970 titik.

BENCANA KALTENG 2026
(Kejadian Periode 1 Januari-5 April)

Karhutla                            215
Banjir                                10
Cuaca Ekstrem                 27
Abrasi                                1
Tanah Longsor                  0
Kekeringan                        4
Kebakaran Pemukiman    45

TOTAL                                 302

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama, mengatakan pihaknya telah menerima peringatan dini terkait kondisi tersebut, termasuk potensi dampak fenomena El Nino.

“Untuk personel dan sarana prasarana pada dasarnya kita sudah siap, karena sudah ada peringatan dini dari BMKG tentang akan terjadinya musim kemarau yang diprediksi akan diikuti fenomena El Nino,” ujarnya saat dihubungi, Senin (6/4/2026).

Baca Juga: Pemerintah Sesumbar! Tegaskan Berpengalaman Hadapi El Nino Godzilla, Terparah di Tahun 2015

Indra menegaskan, meskipun kesiapan personel dan peralatan telah dilakukan, keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada koordinasi lintas pihak dan kesadaran masyarakat.

“Yang perlu diperkuat adalah koordinasi semua pihak dan kesadaran masyarakat akan bahaya kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya seperti kabut asap,” tegasnya.

Ia bahkan menyoroti bahwa mayoritas kejadian karhutla disebabkan oleh ulah manusia.

Baca Juga: Kemarau Panjang Mengintai, Pemko Palangka Raya Sudah Aktifkan 21 Pos Lapangan untuk Pantau Karhutla

“Boleh dikatakan 99,99 persen karhutla terjadi akibat ulah manusia. Artinya, bencana ini sebenarnya bisa dihindari jika tidak ada pembakaran lahan secara tidak terkendali,” ungkapnya.

Saat ini, upaya yang dilakukan lebih difokuskan pada pencegahan dan pemadaman dini guna menekan potensi meluasnya kebakaran.

Baca Juga: BMKG Sarankan Petani Pilih Varietas Tahan Kering, Antisipasi Kemarau Panjang

Di sisi lain, dalam kondisi efisiensi anggaran, pemerintah tetap akan memprioritaskan penanganan bencana, terutama jika terjadi dalam skala besar. “Sekarang lebih kepada upaya cegah dini dan pemadaman dini,” pungkasnya. (*rif/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#fenomena el nino #kebakaran hutan dan lahan #karhutla #musim kemarau #efisiensi anggaran