Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah Memicu Fluktuasi Inflasi Kalteng

Novia • Selasa, 28 April 2026 | 13:30 WIB
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2026. Arief Prathama/ Kalteng Pos
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2026. Arief Prathama/ Kalteng Pos
 
PALANGKA RAYA-Perkembangan harga sejumlah komoditas pangan kembali menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi di Kalimantan Tengah (Kalteng).
 
Kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, hingga beras dinilai menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika inflasi daerah dalam beberapa waktu terakhir.
 
Baca Juga: Hasil Riset Menyebut Jika Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Hanya Berdampak Terbatas Terhadap Inflasi
 
Hal itu disampaikan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Infl asi Tahun 2026 di Aula Bajakah Kantor Gubernur Kalteng, Senin (27/4/2026).
 
Menurut Yuas, berdasarkan rilis rutin Badan Pusat Statistik (BPS), posisi inflasi Kalteng secara nasional relatif tidak banyak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, indeks perkembangan harga di tingkat komoditas menunjukkan fl uktuasi.
 
“Kalau urutannya secara nasional relatif tetap. Tetapi yang sering berubah itu indeks perkembangan harganya. Itu tergantung komoditas, kadang naik, kadang tetap, kadang turun,” ujarnya.
 
Ia menyebutkan, komoditas yang saat ini mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, cabai merah, dan beras. Perubahan harga tersebut dipengaruhi kondisi pasokan di pasar.
 
Baca Juga: Berikut Harga Kebutuhan Bangunan di Palangka Raya Pasca Kenaikan BBM Non Subsidi Per 25 April 2026
 
Yuas menegaskan, salah satu faktor utama kenaikan harga di Kalteng adalah ketergantungan pasokan dari luar daerah.
 
Sebagian besar kebutuhan pangan strategis masih didatangkan dari provinsi lain, sehingga gangguan di daerah asal berdampak langsung terhadap harga di Kalteng.
 
“Pasokan kita ini banyak dari luar. Kalau di daerah asal terjadi kekurangan, maka kita juga terdampak. Kalau kita sudah mandiri untuk komoditas tertentu, tentu ketergantungan itu bisa dikurangi,” jelasnya.
 
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ia mendorong penguatan kerja sama antar daerah, terutama dengan wilayah yang memiliki surplus komoditas pangan. Skema kerja sama dapat dilakukan baik melalui pemerintah daerah maupun pelaku usaha secara langsung (business to business).
 
Baca Juga: Harga Elpiji Non Subsidi di Kotim Naik, Warga Mulai Mengeluh
 
Beberapa komoditas yang dinilai potensial untuk dikerjasamakan antara lain cabai, bawang, dan telur. Dengan adanya kerja sama yang terstruktur, diharapkan pasokan lebih terjamin dan harga dapat lebih stabil.
 
Selain persoalan pasokan, Yuas juga menyoroti dampak kenaikan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) terhadap biaya distribusi barang. Kenaikan ongkos angkut dinilai turut memicu penyesuaian harga di tingkat konsumen.
 
“Kalau biaya angkut naik karena BBM langka atau harganya naik, tentu berpengaruh. Misalnya ongkos yang sebelumnya Rp100 ribu bisa naik menjadi Rp125 ribu. Itu akhirnya berdampak pada harga barang,” katanya.
 
Karena itu, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga dan distribusi, serta berkoordinasi dengan berbagai pihak guna menjaga stabilitas pasokan dan menekan gejolak harga.(*)
Editor : Ayu Oktaviana
#pemantauan harga pangan #bbm langka #harga cabai rawit #inflasi #komoditas pangan