PALANGKA RAYA – Musim kemarau di Kalimantan Tengah (Kalteng) saat ini memasuki periode puncak. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga September 2026 dan berdampak terhadap meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Chandra, mengatakan berdasarkan kondisi meteorologis, puncak musim kemarau di Kalteng terjadi pada Agustus hingga September.
Sementara itu, masa peralihan menuju musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2026.
Baca Juga: Wilayah Selatan Krisis Air saat Kemarau, Pemkab Kotim Siapkan Pengolah Air Asin Jadi Layak Minum
“Musim kemarau di wilayah Kalimantan Tengah saat ini memang merupakan puncaknya pada Agustus-September. Kemudian akhir atau awal musim hujannya diperkirakan pada Oktober akhir hingga November awal,” ujar Chandra, Jumat (25/9/2026).
Hotspot 2026 Lebih Tinggi
Chandra menyebut kondisi kemarau tahun ini tergolong cukup ekstrem jika dibandingkan dengan periode kemarau 2015. Salah satu indikator yang digunakan adalah jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau selama musim kemarau.
Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah hotspot pada 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan 2015.
Baca Juga: Kabut Asap Tercium Menyengat Palangka Raya, Hotspot Juli 2026 Melonjak hingga 1.848 Titik
“Untuk musim kemarau tahun ini, 2026, memang kalau kita melihat dari data hotspot, lebih tinggi. Kalau dibandingkan dengan data hotspot tahun 2015, jumlah hotspot pada tahun ini memang lebih tinggi,” katanya.
Tingginya jumlah hotspot tersebut berjalan bersamaan dengan meningkatnya kejadian karhutla dan munculnya kabut asap di sejumlah wilayah Kalteng.
Namun, hotspot merupakan indikator panas yang terdeteksi melalui pemantauan, sehingga tidak serta-merta menunjukkan titik tersebut merupakan kebakaran yang telah terverifikasi di lapangan.
Selain jumlah hotspot, dampak karhutla pada musim kemarau 2026 juga disebut lebih berat dibandingkan 2015.
Menurut Chandra, kondisi tersebut terlihat dari dampak kebakaran serta kabut asap yang lebih pekat dan kemudian berpengaruh terhadap kualitas udara.
“Untuk dampak kerusakannya, seperti kebakaran hutan dan lahan, dari data yang ada memang lebih parah dibandingkan 2015. Jadi, dari data hotspot sendiri lebih tinggi dibandingkan 2015 dan kondisi asapnya juga lebih pekat, sehingga turut memengaruhi kualitas udara,” jelasnya.
Baca Juga: Dampak Karhutla Kalteng: 12.566 Hektare Terbakar, ISPA Tembus 91 Ribu
Dengan puncak kemarau masih berlangsung hingga September, masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi karhutla dan dampak asap, terutama di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
Peralihan menuju musim hujan yang diperkirakan mulai terjadi pada akhir Oktober hingga awal November diharapkan dapat mengurangi kondisi kering yang menjadi salah satu faktor pendukung meluasnya karhutla. (*)
Editor : Ayu Oktaviana