Ketuk Pintu Langit, Ribuan Mahasiswa dan Siswa Berdoa untuk Karhutla Kalteng

Kamila • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:35 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Amien Suyitno, M.Ag., berfoto bersama dengan jajaran UIN Palangka Raya. FOTO UIN PALANGKA RAYA
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Amien Suyitno, M.Ag., berfoto bersama dengan jajaran UIN Palangka Raya. FOTO UIN PALANGKA RAYA

 

PALANGKA RAYA – Ikhtiar menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya dilakukan melalui upaya teknis di lapangan. Ribuan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya bersama siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) se-Kota Palangka Raya turut mengetuk pintu langit melalui zikir dan doa bersama, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di lingkungan UIN Palangka Raya tersebut menjadi bagian dari rangkaian ikhtiar kampus dalam merespons ancaman karhutla yang masih dihadapi masyarakat. Zikir, istighfar, dan doa dipanjatkan sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT sekaligus penguatan batin bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Mewakili Gubernur Kalteng, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Kalteng Dr. H. Rus’ansyah, S.Ag., M.Pd., mengingatkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas di lapangan. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting, terutama dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu meluasnya api.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kalteng H. Muhammad Yusi Abdhian, S.H.I., M.H.I., menyampaikan bahwa zikir, istighfar, doa, dan amal kebaikan menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam menghadapi kondisi yang sedang terjadi. Ia menilai, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag., mengatakan penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Upaya manusia, menurut dia, perlu terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk mendeteksi dan mengantisipasi potensi bencana.

Namun, kecanggihan teknologi tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, Prof. Amien menekankan pentingnya doa sebagai bagian dari ikhtiar manusia ketika menghadapi persoalan yang berada di luar kemampuan sepenuhnya.

“Kita harus bekerja keras dan memanfaatkan seluruh kemampuan yang kita miliki. Namun, ada satu ikhtiar terakhir yang tidak boleh ditinggalkan, yakni doa. Doa menjadi sumber kekuatan ketika manusia telah sampai pada batas kemampuannya,” tegasnya.

Ia menyebut zikir dan doa bersama tersebut sebagai momentum untuk “mengetuk pintu langit”, memohon agar karhutla di Kalimantan Tengah serta berbagai bencana di Nusa Tenggara Timur dan sejumlah wilayah lainnya segera berakhir.

Prof. Amien juga mengajak masyarakat untuk tidak mempertentangkan antara ikhtiar nyata dan pendekatan spiritual. Keduanya, harus berjalan beriringan. Manusia wajib berusaha semaksimal mungkin, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.

“Semoga seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kalimantan, senantiasa diberikan keselamatan dan perlindungan serta dijauhkan dari segala musibah,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
doa UIN palangka raya zikir karhutla