Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Jemaah Haji Asal Kobar Wafat di Arafah saat Puncak Ibadah Haji, Daftar Safari Wukuf Tak Disetujui

Dea Umilati • Senin, 25 Mei 2026 | 23:03 WIB
Maniah Abdullah Ibai (64), jemaah haji asal Kabupaten Kotawaringin Barat, meninggal dunia.
Maniah Abdullah Ibai (64), jemaah haji asal Kabupaten Kotawaringin Barat, meninggal dunia.

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kabar duka datang dari rombongan jemaah haji asal Kalimantan Tengah. Seorang jemaah haji Kloter BDJ 05 atas nama Maniah Abdullah Ibai (64), asal Kabupaten Kotawaringin Barat, meninggal dunia di Arafah, Arab Saudi, Senin (25/5/2026) siang waktu setempat, setelah mengalami gangguan pernapasan berat saat puncak pelaksanaan ibadah haji.

Almarhumah sebelumnya diketahui sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Al Noor, Makkah, akibat pneumonia dan riwayat penyakit paru yang dideritanya.

Selama kurang lebih lima hari dirawat, kondisinya disebut sempat membaik hingga akhirnya dipulangkan dari rumah sakit pada Minggu malam (24/5/2026) sekitar pukul 01.00 waktu Arab Saudi.

“Beliau kemarin sempat dirujuk ke Rumah Sakit Al Noor di Mekkah karena mengalami sesak napas dan memang memiliki riwayat sakit paru. Kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit,” ujar Ketua Kloter BDJ 5 Slamet Riyadi. 

Setelah keluar dari rumah sakit, almarhumah kemudian dijemput dan dibawa kembali ke pemondokan. Kondisinya saat itu disebut mulai membaik sehingga tetap diberangkatkan menuju Arafah untuk mengikuti rangkaian puncak ibadah haji.

Namun, kondisi cuaca ekstrem di Arafah menjadi tantangan berat bagi para jemaah, terutama lansia dan jemaah dengan penyakit bawaan.

Suhu udara saat itu dilaporkan hampir mencapai 48 derajat Celsius. Meski tenda dilengkapi pendingin udara, kepadatan jemaah membuat suhu di dalam tenda tetap terasa panas.

“Dalam satu tenda ada sekitar 360 orang. Setelah sampai di tenda Arafah, beliau kembali mengalami sesak napas,” lanjutnya.

Tim kesehatan kloter kemudian berupaya memberikan pertolongan dan membawa almarhumah ke klinik terdekat. Namun, situasi di lapangan disebut belum sepenuhnya siap.

“Waktu dibawa ke klinik, ternyata belum ada petugas, peralatan juga belum lengkap. Oksigen tidak tersedia, baru ada ruangan kosong. Akhirnya teman-teman kesehatan sempat memasang infus, tetapi saturasi oksigen beliau terus turun hingga di bawah 70 persen,” jelasnya.

Berdasarkan laporan medis dokter kloter, almarhumah datang dengan keluhan sesak napas, pusing, dan lemas. Saat pemeriksaan, kondisi kesadaran masih baik dengan GCS 15, namun laju napas mencapai 48 kali per menit dan saturasi oksigen hanya 78 persen di udara bebas. Denyut nadi tercatat 135 kali per menit.

Tim medis kemudian melakukan tindakan darurat. Pada pukul 12.45 waktu Arab Saudi, pasien mengalami henti jantung dan dilakukan resusitasi jantung paru (RJP).

Suntikan epinefrin diberikan pada pukul 13.12 dan sempat terjadi return of spontaneous circulation (ROSC) atau denyut jantung kembali pada pukul 13.18.

Namun kondisi kembali memburuk beberapa menit kemudian. Pada pukul 13.23 pasien kembali mengalami henti jantung.

Setelah upaya penyelamatan lanjutan dilakukan, dokter kloter akhirnya menyatakan almarhumah meninggal dunia pada pukul 13.25 waktu Arab Saudi.

Dokter kloter BDJ 05, dr Tania, menyebut almarhumah sebelumnya telah diusulkan mengikuti program safari wukuf karena kondisi kesehatannya.

Namun usulan tersebut tidak disetujui pihak daerah kerja (Daker) karena kondisi pasien dinilai sudah cukup stabil usai keluar dari rumah sakit.

“Beliau sempat dirawat di RSAS selama lima hari karena pneumonia. Baru keluar rumah sakit tanggal 23 malam. Kemarin kami daftarkan safari wukuf, namun tidak di-acc oleh Daker karena dianggap sudah stabil,” ungkapnya.(*)

Editor : Agus Pramono
#jemaah haji kobar #jemaah haji wafat #puncak haji