KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Mewarnai rambut kini bukan lagi sekadar cara untuk menutupi uban. Bagi banyak orang, pewarnaan rambut telah menjadi bagian dari gaya hidup dan perawatan penampilan untuk menunjang rasa percaya diri.
Namun, di balik hasil warna rambut yang menarik, penggunaan pewarna rambut berbahan kimia tetap perlu diperhatikan.
Terlalu sering mewarnai rambut, terutama dengan produk yang mengandung bahan kimia keras, dapat menimbulkan berbagai masalah pada rambut dan kulit kepala.
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko bahan kimia tertentu, banyak orang mulai lebih selektif dalam memilih produk pewarna rambut. Pasalnya, kulit kepala sebenarnya mampu memberikan sinyal atau tanda-tanda ketika kondisinya mulai terganggu akibat paparan bahan kimia yang berlebihan.
Terdapat sejumlah tanda yang menunjukkan bahwa kulit kepala membutuhkan waktu untuk beristirahat dari penggunaan pewarna rambut berbahan kimia.
Muncul Rasa Gatal dan Sensasi Terbakar
Salah satu tanda yang paling sering muncul adalah rasa gatal, panas, atau sensasi terbakar pada kulit kepala selama maupun setelah proses pewarnaan rambut.
Kondisi ini dapat terjadi akibat reaksi kulit terhadap kandungan bahan kimia seperti amonia, para-phenylenediamine (PPD), dan hidrogen peroksida yang umum ditemukan dalam produk pewarna rambut.
Jika keluhan terus berulang setiap kali mewarnai rambut, sebaiknya penggunaan pewarna dihentikan sementara untuk mencegah iritasi yang lebih serius.
Kulit Kepala Menjadi Kering dan Mengelupas
Kulit kepala yang terasa kering, bersisik, atau mengelupas setelah pewarnaan juga patut diwaspadai.
Melansir https://poltekkesmenteng.org , banyak bahan kimia dalam pewarna rambut dapat menghilangkan minyak alami yang berfungsi menjaga kelembapan kulit kepala. Akibatnya, lapisan pelindung alami kulit menjadi rusak dan memicu kekeringan berlebihan.
Rambut Rontok Semakin Banyak
Apabila jumlah rambut yang rontok meningkat setelah mewarnai rambut, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa akar rambut mulai melemah.
Paparan bahan kimia yang berulang dapat membuat batang rambut lebih rapuh dan mudah patah. Jika dibiarkan terus-menerus, kerusakan rambut bisa menjadi lebih sulit diperbaiki.
Kulit Kepala Kemerahan dan Iritasi
Kemerahan pada kulit kepala setelah pewarnaan menunjukkan adanya reaksi iritasi akibat bahan kimia yang digunakan.
Selain tampak merah, kulit kepala biasanya terasa lebih sensitif saat disentuh. Jika penggunaan pewarna rambut tetap dilanjutkan tanpa jeda, risiko terjadinya iritasi kronis dapat meningkat.
Rambut Kehilangan Kilau Alaminya
Rambut yang sehat umumnya terlihat berkilau dan terasa lembut. Namun, jika setelah diwarnai rambut justru menjadi kasar, kering, kusam, dan mudah patah, hal tersebut bisa menjadi pertanda kerusakan akibat akumulasi bahan kimia.
Paparan bahan kimia dalam jangka panjang dapat merusak lapisan pelindung rambut sehingga teksturnya berubah dan terlihat tidak sehat.
Uban Muncul Lebih Cepat
Banyak orang mewarnai rambut untuk menyamarkan uban. Namun ironisnya, penggunaan pewarna berbahan kimia keras secara berlebihan justru diduga dapat mempercepat munculnya uban.
Hal ini terjadi karena bahan kimia tertentu berpotensi mengganggu produksi melanin, yaitu pigmen alami yang memberikan warna pada rambut. Akibatnya, proses penuaan rambut bisa berlangsung lebih cepat dari biasanya.
Jangan Abaikan Sinyal dari Kulit Kepala
Para ahli menyarankan agar penggunaan pewarna rambut dilakukan secara bijak dan tidak terlalu sering. Memberikan jeda waktu antara proses pewarnaan dapat membantu rambut dan kulit kepala pulih dari paparan bahan kimia.
Selain itu, memilih produk yang lebih ramah bagi kulit kepala, menggunakan perawatan pelembap, serta berkonsultasi dengan profesional jika muncul iritasi berkepanjangan dapat membantu menjaga kesehatan rambut dalam jangka panjang.
Karena itu, jika kulit kepala mulai menunjukkan tanda-tanda tersebut, tidak ada salahnya memberi waktu istirahat sebelum kembali mewarnai rambut agar kesehatan rambut dan kulit kepala tetap terjaga.(*)
Editor : Agus Pramono