SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh curah hujan yang mulai menurun seiring masuknya wilayah ini ke masa peralihan menuju musim kemarau.
Prakirawan BMKG Sampit, Rizaldo Raditya Pratama mengatakan, hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir belum memberikan dampak signifikan terhadap tingkat kelembapan lahan. Hujan yang turun umumnya bersifat ringan, berdurasi singkat, dan hanya terjadi di wilayah tertentu.
“Curah hujan memang masih terjadi, tetapi sifatnya sementara, intensitasnya ringan, dan cakupannya terbatas. Kondisi ini belum cukup untuk menurunkan tingkat kerawanan kebakaran,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
Menurut Rizaldo, penurunan curah hujan membuat lahan gambut di Kotim semakin mengering, bahkan hingga ke lapisan bawah tanah. Situasi ini menyebabkan lahan menjadi sangat sensitif terhadap sumber api, sekecil apa pun pemicunya.
“Karakteristik gambut itu keringnya bisa sampai ke bawah permukaan. Ketika ada pemicu, api mudah menyebar dan sulit dikendalikan,” katanya.
Ia mencontohkan kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, pada Kamis (15/1/2026). Dalam peristiwa tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar enam hektare.
Rizaldo menilai kejadian itu menjadi indikator bahwa risiko karhutla di Kotim masih perlu diwaspadai. BMKG juga telah merilis analisis parameter cuaca Kalimantan Tengah yang menunjukkan potensi kemudahan terjadinya kebakaran pada 16 hingga 17 Januari 2026 masih tergolong tinggi.
“Hujan dengan intensitas kecil dan durasi singkat seperti kemarin biasanya hanya membasahi permukaan. Belum mampu menjangkau lapisan tanah yang lebih dalam, terutama di area rawan terbakar,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, tingkat kerawanan karhutla juga dipengaruhi oleh kondisi daerah resapan air, ketebalan tanah, serta struktur bebatuan di suatu wilayah. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
“Dengan kondisi curah hujan yang mulai menurun, pemicu sekecil apa pun bisa menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati,” pungkasnya. (mif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana