PALANGKA RAYA – Ramadan selalu menjadi momen spesial bagi umat Muslim. Selain menjadi bulan penuh berkah dan ibadah, Ramadan juga membawa perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat. Berbagai pusat perbelanjaan dan e-commerce berlomba-lomba menawarkan diskon besar-besaran, dari pakaian, kebutuhan pokok, hingga barang elektronik.
Namun, di balik gemerlap promo menggiurkan, muncul pertanyaan, apakah fenomena ini mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat, atau justru menjadi jebakan konsumtif yang bisa merugikan masyarakat dalam jangka panjang?
Menurut Dr. Fitria Husnatarina, S.E., M.Si., Ak., CA., CSRS., CSRA., ACPA., SCL, seorang pengamat ekonomi di Kalimantan Tengah (Kalteng), Ramadan merupakan momen strategis bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan penjualan.
Perusahaan memahami bahwa di bulan ini, masyarakat memiliki kebutuhan lebih besar dibanding bulan-bulan biasa. Mulai dari baju baru, bahan makanan, hingga perlengkapan rumah tangga, semuanya menjadi prioritas belanja.
“Dalam ilmu marketing, tugas perusahaan adalah menciptakan kebutuhan, bahkan jika masyarakat awalnya tidak merasa membutuhkannya. Ini strategi yang alami dalam dunia bisnis,” ucapnya, Selasa (25/3).
Bahkan, diskon besar akan membuat orang tertarik membeli, baik karena memang membutuhkan atau sekadar takut kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah. Kendati demikian, dijelaskan Fitria, sejatinya ekonomi akan bergeliat ketika transaksi di pasar hidup. Masyarakat banyak membeli dan mengkonsumsi, itu perspektif ekonomi yang sehat. Justru jika barang tersedia dengan diskon besar, tetapi tidak ada daya beli dari masyarakat, itu pasar yang tidak sehat.
Tak heran, banyak masyarakat yang akhirnya membeli lebih dari yang direncanakan karena tergoda oleh promosi.
“Tadinya hanya ingin beli satu, tapi keluar dari toko bisa membawa tiga. Itulah efek dari strategi diskon,” tambah Fitria.
Dari sudut pandang ekonomi, meningkatnya transaksi di bulan Ramadan menandakan perekonomian yang bergairah.
“Ketika daya beli masyarakat meningkat, uang berputar, dan pasar hidup, itu adalah indikator ekonomi yang sehat. Justru yang berbahaya adalah ketika daya beli masyarakat lesu meskipun banyak diskon,” papar Fitria.
Diskon besar di Ramadan bukanlah sesuatu yang buruk. Dari sudut pandang ekonomi, ini mendorong perputaran uang dan meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha. Namun, jika tidak disikapi dengan bijak, ini bisa menjadi jebakan konsumtif yang berbahaya.
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang berbelanja dan memanfaatkan diskon. Ini adalah momen refleksi dan pengendalian diri, termasuk dalam hal keuangan. Masyarakat perlu memahami bahwa kebahagiaan di Idulfitri tidak diukur dari seberapa banyak barang baru yang dimiliki, tetapi dari seberapa bijak kita dalam mengelola apa yang ada.
Namun, di balik perputaran ekonomi yang meningkat, ada sisi negatif yang perlu diwaspadai. Banyak masyarakat yang akhirnya terjebak dalam utang konsumtif, seperti penggunaan kartu kredit dan layanan paylater yang berlebihan.
“Yang perlu diperhatikan adalah manajemen keuangan personal. Jangan sampai hanya karena ingin konsumsi, kita berutang dan terikat komitmen keuangan yang di luar batas kemampuan. Banyak masyarakat yang akhirnya berhutang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mendesak. Setelah Ramadan berlalu, mereka justru terbebani dengan cicilan yang menumpuk,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik agar Ramadan tidak berakhir dengan masalah finansial di bulan-bulan berikutnya.
“Belanja boleh, tapi harus tetap sesuai dengan prioritas dan kondisi keuangan masing-masing. Jangan sampai terlilit utang hanya karena tergoda diskon,” pesannya.
Dirinya pun memberikan tips belanja cerdas di Ramadan agar terhindar dari jebakan konsumtif.
Pertama, tetapkan anggaran belanja. Tentukan jumlah uang yang akan digunakan untuk belanja Ramadan dan patuhi batas tersebut.
Kedua, bedakan kebutuhan dan keinginan Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan.
Ketiga, hindari utang konsumtif Jangan menggunakan kartu kredit atau paylater untuk membeli barang yang tidak mendesak.
Keempat, jangan mudah terpancing promosi. Kata-kata seperti “diskon besar-besaran dan lainnya, sering kali digunakan untuk menciptakan urgensi palsu. Tetap tenang dan bandingkan harga sebelum membeli.
Kelima, rencanakan belanja jangka panjang. Setelah Ramadan, masih ada pengeluaran lain yang harus dipikirkan. Jangan habiskan semua uang hanya untuk belanja di satu momen.
Meskipun banyak yang menyadari pentingnya belanja bijak, tetap saja ada masyarakat yang sulit mengontrol diri saat melihat diskon besar.
Yudisha (43), seorang ibu rumah tangga di Palangka Raya, mengakui bahwa ia sering tergoda dengan promo, tidak hanya Ramadan, tetapi juga momen lainnya. Bahkan, tidak hanya berbelanja offline, dirinya juga membeli beberapa barang secara online.
“Saya awalnya hanya ingin membeli baju untuk anak-anak. Tapi karena ada promo, saya jadi belanja lebih banyak. Rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan, karena THR suami juga sudah ada,” tuturnya.
Sementara itu, Ismawan (30), seorang karyawan swasta, juga mengalami hal serupa. “Saya memang menyiapkan anggaran khusus untuk belanja Ramadan, karena ada THR juga dari kantor. Tapi ketika melihat diskon besar, saya jadi belanja lebih banyak dari yang direncanakan. Khilaf kalo kata orang,” ujarnya sambil tersenyum. (ovi)