Kamis, April 3, 2025
25.7 C
Palangkaraya

Kematian Babi Tembus 3.000 Ekor

“Bisa dihitung, 35.000 x 80 kilogram x 3.000 ekor, sama dengan Rp8,4 miliar. Nilai kerugian sangat besar sekali bagi para peternak babi,” ucapnya dengan lirih.

Pria yang lebih 10 tahun beternak babi ini merasa prihatin. Bayangkan, jumlah peternak babi di Palangka Raya mencapai kurang lebih 1.000 orang atau 1.000 kepala keluarga. Hampir semua menggantungkan hidupnya pada usaha ternak babi.

Marthen menyebut, puncak kematian babi di Palangka Raya akibat wabah ASF terjadi pada September-Oktober lalu. Saat ini sudah mulai mereda, bukan lantaran virusnya sudah hilang, melainkan jumlah populasi sudah berkurang.

“Yang paling parah sekitar satu bulan yang lalu, kalau bulan ini sudah agak mereda, tapi bukan karena penyakitnya yang mereda, melainkan babinya memang sudah habis,” ucapnya sedih.

Wabah virus ASF ini memberi efek domino terhadap harga jual daging babi. Bukannya tambah mahal, malah harga jual di pasaran makin murah.

Baca Juga :  Wahyudie F Dirun Kembali Pimpin PWNU Kalteng

“Sekarang orang pada takut beli daging babi,”sebut pria yang memiliki 100 ekor babi ini.

Marthen berharap pemerintah bisa secepatnya turun tangan membantu para peternak mengatasi wabah demam babi Afrika ini. Bahkan dalam waktu dekat ini, perwakilan pengurus berencana untuk beraudiensi dengan wali kota dan wakil rakyat yang duduk di DPRD Kota Palangka Raya.

Dalam pertemuan nanti, pihak asosiasi meminta pemerintah membantu para peternak babi dalam mengatasi wabah ASF ini. Selain itu, pihak asosiasi juga berharap pemerintah bisa memperhatikan para peternak babi yang mengalami kerugian akibat wabah ini.

“Dalam pertemuan nanti kami akan memohon kepada wali kota dan anggota dewan untuk bisa bantu mencarikan jalan keluar untuk 1.000 kepala keluarga peternak babi yang kehilangan mata pencaharian. Bisa saja nanti pemerintah memberikan bantuan bibit babi. Satu orang peternak diberi satu pasang tidak masalah, yang penting mereka bisa memulai lagi,” bebernya.

Baca Juga :  Kotim Dapat Bantuan 25 Ton Beras

Merebaknya demam babi Afrika juga memberi efek domino terhadap pedagang daging babi. Kalteng Pos mendatangi langsung lokasi jual beli daging babi di pasar. Tidak banyak aktivitas terlihat di sana.

Salah satu penjual daging babi, Mega Sukmawatie, mengaku aktivitas jual beli saat ini jauh dari biasanya. Para pelanggan jarang datang. “Banyak konsumen mengurungkan niat untuk membeli daging babi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia hanya membawa satu ekor babi untuk dijual. Padahal sebelum virus ada, bisa sampai 5 ekor yang dibeli dari peternak lokal untuk dijualnya. Soal harga jual, tidak ada perubahan. Ia menjual Rp65 ribu/kilogram. Sesekali ia memberi diskon ke pelanggan, agar dagangannya lekas habis terjual.

“Bisa dihitung, 35.000 x 80 kilogram x 3.000 ekor, sama dengan Rp8,4 miliar. Nilai kerugian sangat besar sekali bagi para peternak babi,” ucapnya dengan lirih.

Pria yang lebih 10 tahun beternak babi ini merasa prihatin. Bayangkan, jumlah peternak babi di Palangka Raya mencapai kurang lebih 1.000 orang atau 1.000 kepala keluarga. Hampir semua menggantungkan hidupnya pada usaha ternak babi.

Marthen menyebut, puncak kematian babi di Palangka Raya akibat wabah ASF terjadi pada September-Oktober lalu. Saat ini sudah mulai mereda, bukan lantaran virusnya sudah hilang, melainkan jumlah populasi sudah berkurang.

“Yang paling parah sekitar satu bulan yang lalu, kalau bulan ini sudah agak mereda, tapi bukan karena penyakitnya yang mereda, melainkan babinya memang sudah habis,” ucapnya sedih.

Wabah virus ASF ini memberi efek domino terhadap harga jual daging babi. Bukannya tambah mahal, malah harga jual di pasaran makin murah.

Baca Juga :  Wahyudie F Dirun Kembali Pimpin PWNU Kalteng

“Sekarang orang pada takut beli daging babi,”sebut pria yang memiliki 100 ekor babi ini.

Marthen berharap pemerintah bisa secepatnya turun tangan membantu para peternak mengatasi wabah demam babi Afrika ini. Bahkan dalam waktu dekat ini, perwakilan pengurus berencana untuk beraudiensi dengan wali kota dan wakil rakyat yang duduk di DPRD Kota Palangka Raya.

Dalam pertemuan nanti, pihak asosiasi meminta pemerintah membantu para peternak babi dalam mengatasi wabah ASF ini. Selain itu, pihak asosiasi juga berharap pemerintah bisa memperhatikan para peternak babi yang mengalami kerugian akibat wabah ini.

“Dalam pertemuan nanti kami akan memohon kepada wali kota dan anggota dewan untuk bisa bantu mencarikan jalan keluar untuk 1.000 kepala keluarga peternak babi yang kehilangan mata pencaharian. Bisa saja nanti pemerintah memberikan bantuan bibit babi. Satu orang peternak diberi satu pasang tidak masalah, yang penting mereka bisa memulai lagi,” bebernya.

Baca Juga :  Kotim Dapat Bantuan 25 Ton Beras

Merebaknya demam babi Afrika juga memberi efek domino terhadap pedagang daging babi. Kalteng Pos mendatangi langsung lokasi jual beli daging babi di pasar. Tidak banyak aktivitas terlihat di sana.

Salah satu penjual daging babi, Mega Sukmawatie, mengaku aktivitas jual beli saat ini jauh dari biasanya. Para pelanggan jarang datang. “Banyak konsumen mengurungkan niat untuk membeli daging babi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia hanya membawa satu ekor babi untuk dijual. Padahal sebelum virus ada, bisa sampai 5 ekor yang dibeli dari peternak lokal untuk dijualnya. Soal harga jual, tidak ada perubahan. Ia menjual Rp65 ribu/kilogram. Sesekali ia memberi diskon ke pelanggan, agar dagangannya lekas habis terjual.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/