Kamis, Mei 30, 2024
24.6 C
Palangkaraya

Barsel Dapat Penghargaan Bebas Frambusia dari Kemenkes

BUNTOK-Kabupaten Barito Selatan mendapat penghargaan berupa sertifikat bebas dari penyakit frambusia atau infeksi kulit kronis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin kepada Penjabat Bupati Barito Selatan Lisda Arriyana di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Sertifikat penghargaan itu diterima ibu Lisda Arriyana pada peringatan Hari Neglected Tropical Diseases (NTDs) sedunia yang berlangsung di Krakatau Grand Ballroom Taman Mini Indonesia Indah Jakarta,” kata Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah (Setda) Barito Selatan Olliev Frata saat dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (23/2/2023).

Menurut dia, penghargaan berupa sertifikat tersebut diterima Penjabat Bupati Barito Selatan bersama 102 bupati dan wali kota lainnya di seluruh Indonesia.

Baca Juga :  Gunakan Dua Konsep Dalam Membangun Desa

“Selain Barito Selatan, kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah yang juga mendapatkan penghargaan tersebut ada tiga yakni Kabupaten Barito Utara, Gunung Mas dan Lamandau,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan drg Daryomo Sukiastono saat dihubungi melalui telepon selulernya mengaku sangat bersyukur karena Barsel telah mendapat penghargaan tersebut.

“Kita sangat bersyukur, Kabupaten Barito Selatan pada 2023 ini mendapatkan penghargaan yang diterima ibu penjabat bupati dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia,” kata Daryomo saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (23/2/2023).

Ia menjelaskan, penghargaan ini diterima karena selama tiga tahun berturut-turut Kabupaten Barito Selatan tidak ada kasus frambusia atau penyakit kulit kronis.

Baca Juga :  Kapolda Ingatkan Penanggulangan Karhutla

“Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit kronis yang disebabkan oleh bakteri triponema pallidum pretenue,” kata Daryomo Sukiastono yang akrab disapa dokter Yomi itu.

Menurut dia, Dinas Kesehatan Barito Selatan terus melakukan berbagai upaya agar kasus penyakit tersebut tidak terjadi di kabupaten yang berjuluk Dahani Dahanai Tuntung Tulus ini. (ner/ens)

BUNTOK-Kabupaten Barito Selatan mendapat penghargaan berupa sertifikat bebas dari penyakit frambusia atau infeksi kulit kronis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin kepada Penjabat Bupati Barito Selatan Lisda Arriyana di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Sertifikat penghargaan itu diterima ibu Lisda Arriyana pada peringatan Hari Neglected Tropical Diseases (NTDs) sedunia yang berlangsung di Krakatau Grand Ballroom Taman Mini Indonesia Indah Jakarta,” kata Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah (Setda) Barito Selatan Olliev Frata saat dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (23/2/2023).

Menurut dia, penghargaan berupa sertifikat tersebut diterima Penjabat Bupati Barito Selatan bersama 102 bupati dan wali kota lainnya di seluruh Indonesia.

Baca Juga :  Gunakan Dua Konsep Dalam Membangun Desa

“Selain Barito Selatan, kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah yang juga mendapatkan penghargaan tersebut ada tiga yakni Kabupaten Barito Utara, Gunung Mas dan Lamandau,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan drg Daryomo Sukiastono saat dihubungi melalui telepon selulernya mengaku sangat bersyukur karena Barsel telah mendapat penghargaan tersebut.

“Kita sangat bersyukur, Kabupaten Barito Selatan pada 2023 ini mendapatkan penghargaan yang diterima ibu penjabat bupati dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia,” kata Daryomo saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (23/2/2023).

Ia menjelaskan, penghargaan ini diterima karena selama tiga tahun berturut-turut Kabupaten Barito Selatan tidak ada kasus frambusia atau penyakit kulit kronis.

Baca Juga :  Kapolda Ingatkan Penanggulangan Karhutla

“Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit kronis yang disebabkan oleh bakteri triponema pallidum pretenue,” kata Daryomo Sukiastono yang akrab disapa dokter Yomi itu.

Menurut dia, Dinas Kesehatan Barito Selatan terus melakukan berbagai upaya agar kasus penyakit tersebut tidak terjadi di kabupaten yang berjuluk Dahani Dahanai Tuntung Tulus ini. (ner/ens)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/