Sabtu, April 5, 2025
23.6 C
Palangkaraya

Nilai Tukar Petani Subsektor Perkebunan Rakyat Meningkat

PALANGKA RAYA – Tanaman perkebunan rakyat merupakan subsektor andalan di Kalimantan Tengah. Nilai Tukar Pertanian (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat pada Desember 2022 mengalami peningkatan sebesar 0,11 persen, dari 131,14 menjadi 131,29.

“Peningkatan ini terjadi karena It (indeks harga yang diterima petani) mengalami peningkatan 0,51 persen yang lebih besar dibanding peningkatan Ib (indeks harga yang dibayar petani) yaitu 0,39 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Eko Marsoro, beberapa waktu lalu.

Eko menjelaskan, peningkatan It pada Desember 2022 disebabkan oleh meningkatnya indeks harga hasil produksi pada kelompok tanaman perkebunan rakyat, khususnya kelapa sawit. Komoditas kelapa sawit mengalami peningkatan indeks harga (1,46 persen) di daerah perdesaan.

Baca Juga :  Bina Pokmaswas Ilegal Fishing

“Ini dikarenakan masih berlakunya penghapusan tarif pungutan ekspor kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, adanya perubahan batas bawah pengenaan tarif bea keluar CPO dan produk turunannya yang semula US$ 750 per metrik ton (MT) menjadi US$ 680 per MT (PMK 123/2022) juga mendorong ekspor CPO meningkat.

“Dengan adanya kebijakan penghapusan pungutan ekspor dan perubahan batas bawah tarif bea keluar CPO, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh petani berupa kenaikan harga tandan buah segar (TBS) di daerah perdesaan,” tuturnya.

Adapun peningkatan yang terjadi pada Ib 0,39 persen, ia menjelaskan, disebabkan oleh meningkatnya indeks kelompok KRT sebesar 0,42 persen dan juga meningkatnya indeks kelompok BPPBM sebesar 0,27 persen.

Baca Juga :  Stan Diskop Kalteng Terbaik II

“Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat dari 119,26 pada November 2022 menjadi 119,73 pada Desember 2022,” tandasnya. (aza)

PALANGKA RAYA – Tanaman perkebunan rakyat merupakan subsektor andalan di Kalimantan Tengah. Nilai Tukar Pertanian (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat pada Desember 2022 mengalami peningkatan sebesar 0,11 persen, dari 131,14 menjadi 131,29.

“Peningkatan ini terjadi karena It (indeks harga yang diterima petani) mengalami peningkatan 0,51 persen yang lebih besar dibanding peningkatan Ib (indeks harga yang dibayar petani) yaitu 0,39 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Eko Marsoro, beberapa waktu lalu.

Eko menjelaskan, peningkatan It pada Desember 2022 disebabkan oleh meningkatnya indeks harga hasil produksi pada kelompok tanaman perkebunan rakyat, khususnya kelapa sawit. Komoditas kelapa sawit mengalami peningkatan indeks harga (1,46 persen) di daerah perdesaan.

Baca Juga :  Bina Pokmaswas Ilegal Fishing

“Ini dikarenakan masih berlakunya penghapusan tarif pungutan ekspor kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, adanya perubahan batas bawah pengenaan tarif bea keluar CPO dan produk turunannya yang semula US$ 750 per metrik ton (MT) menjadi US$ 680 per MT (PMK 123/2022) juga mendorong ekspor CPO meningkat.

“Dengan adanya kebijakan penghapusan pungutan ekspor dan perubahan batas bawah tarif bea keluar CPO, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh petani berupa kenaikan harga tandan buah segar (TBS) di daerah perdesaan,” tuturnya.

Adapun peningkatan yang terjadi pada Ib 0,39 persen, ia menjelaskan, disebabkan oleh meningkatnya indeks kelompok KRT sebesar 0,42 persen dan juga meningkatnya indeks kelompok BPPBM sebesar 0,27 persen.

Baca Juga :  Stan Diskop Kalteng Terbaik II

“Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat dari 119,26 pada November 2022 menjadi 119,73 pada Desember 2022,” tandasnya. (aza)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/