Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat ayat demi ayat, tetapi juga perjalanan yang penuh makna. Inilah yang dialami Rima Raihana, seorang hafizah muda yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz dengan berbagai tantangan dan perjuangan.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
KETERTARIKAN Rima untuk menghafal Al-Qur’an muncul setelah membaca berbagai kisah inspiratif. Salah satunya tentang seorang seorang penghafal Qur’an cilik yang jasadnya tetap utuh setelah bertahun-tahun dikuburkan. Selain itu, ia juga pernah mendengar ceramah tentang bagaimana seorang hafiz bisa memberikan mahkota kemuliaan untuk orang tuanya di akhirat.
“Saya ingin Al-Qur’an jadi cahaya dan teman saya, baik di dunia maupun akhirat,” katanya saat berbincang dengan Kalteng Pos, Rabu (2/4).
Rima mulai serius menghafal Al-Qur’an setelah lulus MTs dan masuk Aliyah di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru. Dalam tiga tahun, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz di bawah bimbingan Ustaz Yahya, dukungan keluarga, dan semangat dari teman-temannya.
Awalnya, perempuan kelahiran 2002 ini sempat ragu ikut program tahfiz, karena mendengar bahwa apabila hafalan hilang, akan ada tuntutan di akhirat. Namun setelah memahami lebih dalam, ia menyadari bahwa yang penting adalah terus mengulang dan menjaga hafalan.
Perjalanannya enggak selalu mulus. Rima pernah hampir menyerah karena lelah dan stres dengan jadwal pesantren yang padat. Dari pagi belajar kitab, siang pelajaran umum, sore hingga malam hari masih ada kegiatan lain.
“Waktu itu saya baca Al-Qur’an dan kebetulan menemukan ayat dalam Surah Az-Zumar yang bilang jangan berputus asa. Rasanya kayak Allah lagi kasih saya pesan langsung,” ucapnya.
Menurutnya, metode paling efektif adalah menghafal dengan mushaf yang sama.
“Jangan sering ganti Al-Qur’an, soalnya beda mushaf beda tata letak ayatnya,” jelasnya.
Ia juga membuat target harian agar hafalan lebih terarah dan punya partner menghafal supaya lebih semangat.
Setelah menyelesaikan hafalan, tantangan baru muncul, bagaimana tetap mengingat semua yang sudah dihafalkan? Rima selalu menyediakan waktu khusus untuk murajaah setelah salat Subuh dan salat Magrib.
“Kadang sibuk banget, tetapi tetap usahakan tiap hari ada waktu buat mengulang, walau sedikit,” katanya.
Tantangan terbesarnya adalah rasa malas dan godaan bermain gawai. Mesku demikian, ia berusaha tetap disiplin.
Perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah itu sangat bersyukur karena keluarganya selalu mendukung. Orang tuanya selalu menyemangati dan mendoakannya agar tetap istikamah. Ia juga terinspirasi oleh Ustaz Adi Hidayat dan Wirda Mansur, yang dikenal karena kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an.
“Melihat perjuangan mereka, bikin saya makin semangat,” ungkapnya.
Banyak hal berubah setelah Rima menghafal Al-Qur’an. Ia merasa lebih tenang, lebih dekat dengan Allah, dan lebih mudah dalam berbagai urusan. Bahkan, prestasi akademiknya pun meningkat.
“Dahulu di bangku SD, saya enggak pernah masuk sepuluh besar, tetapi semenjak belajar menghafal (Al-Qur’an, red), jadi lebih gampang paham pelajaran, akhirnya masuk lima besar,” ceritanya.
Selain itu, kebiasaannya dalam ibadah juga berubah. Jika dahulu salatnya kurang khusyuk dan jarang salat sunah, sekarang lebih disiplin.
“Dahulu gampang banget emosi, sekarang lebih santai, karena yakin Allah selalu ada buat saya,” tambahnya.
Setelah menyelesaikan hafalan, Rima berharap bisa terus mempertahankan hafalan, mengamalkan Al-Qur’an, dan mengajarkannya kepada orang lain.
“Saya pengen terus bersama Al-Qur’an sampai akhir hayat,” ucapnya. (*/ce/ala)