Jumat, April 4, 2025
29.2 C
Palangkaraya

Mulai Mencintai Pertanian, Menjaga Hutan Tetap Kekal

Menurut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau Aisupran, bibit-bibit itu nantinya dibagikan ke kelompok tani.
Pria 49 tahun itu sudah sejak 2007 lalu bertugas di Desa Parahangan. Awalnya ia mengalami sedikit kesulitan ketika membina warga yang sebagian besar memilih mencari emas secara tradisional yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang.
“Memang harus diakui bahwa mengubah pola pikir dari pertambangan emas tradisional ke pertanian itu tidak mudah, tugas kami ya menarik minat mereka,” ujarnya.

Upaya itu tak sia-sia. Saat ini sudah mulai kelihatan hasilnya. Awalnya belasan orang yang terjun ke pertanian, tapi kini sudah berjumlah ratusan. Buktinya, ada lima kelompok tani yang sudah berdiri. Satu kelompok tani beranggota 25 hingga 30 orang. Tidak semuanya generasi tua. Ada yang masih muda. Rata-rata punya lahan sendiri. Mereka sudah meninggalkan pertambangan tradisional. Mereka sadar bahwa suatu waktu lahan emas itu akan habis. Tidak kekal.
“Sejauh ini mereka sudah menghasilkan. Contohnya, sayuran. Sampai kewalahan melayani pembeli yang merupakan warga desa sendiri maupun warga desa sekitar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Vonis Edy Mulyadi Ringan, Kawal Sidang Adat Dayak

Masalah saat ini adalah kekurangan lahan. Harus ada solusi dari pemerintah untuk membuka lahan. “Banyak lahan kosong, tapi warga enggak mungkin membakar. Warga di sini kesadarannya tinggi. Enggak mau membakar. Harus ada alat untuk membuka lahan tidur,” ungkap lulusan D-3 Pertanian Universitas Palangka Raya tahun 1994 ini.

Di tempat yang sama, Koordinator Community Development BNF Indonesia Yuliana Nona menyampaikan, BNF memiliki peran dalam pendampingan merawat dan menggali potensi hutan desa. Sejumlah desa yang ada di Kecamatan Kahayan Tengah memiliki potensi keanekaragaman hayati. Mulai dari primata, mamalia, burung, reptil, hingga aneka jenis tanaman.
“Satwa yang ada di hutan Desa Parahangan merupakan limpasan dari area sekitar hutan desa yang sudah menjadi perkebunan sawit. Oleh karena itu, rumah satu-satunya bagi satwa-satwa itu hanyalah hutan desa. Karena itu, kami berharap hutan di Desa Parahangan dapat dijaga kelestariannya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat desa, terutama kawula muda,” tegasnya. (*/ce)

Baca Juga :  PPDB dan PTM, Harus Lampirkan Surat Vaksinasi Orang Tua

Menurut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau Aisupran, bibit-bibit itu nantinya dibagikan ke kelompok tani.
Pria 49 tahun itu sudah sejak 2007 lalu bertugas di Desa Parahangan. Awalnya ia mengalami sedikit kesulitan ketika membina warga yang sebagian besar memilih mencari emas secara tradisional yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang.
“Memang harus diakui bahwa mengubah pola pikir dari pertambangan emas tradisional ke pertanian itu tidak mudah, tugas kami ya menarik minat mereka,” ujarnya.

Upaya itu tak sia-sia. Saat ini sudah mulai kelihatan hasilnya. Awalnya belasan orang yang terjun ke pertanian, tapi kini sudah berjumlah ratusan. Buktinya, ada lima kelompok tani yang sudah berdiri. Satu kelompok tani beranggota 25 hingga 30 orang. Tidak semuanya generasi tua. Ada yang masih muda. Rata-rata punya lahan sendiri. Mereka sudah meninggalkan pertambangan tradisional. Mereka sadar bahwa suatu waktu lahan emas itu akan habis. Tidak kekal.
“Sejauh ini mereka sudah menghasilkan. Contohnya, sayuran. Sampai kewalahan melayani pembeli yang merupakan warga desa sendiri maupun warga desa sekitar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Vonis Edy Mulyadi Ringan, Kawal Sidang Adat Dayak

Masalah saat ini adalah kekurangan lahan. Harus ada solusi dari pemerintah untuk membuka lahan. “Banyak lahan kosong, tapi warga enggak mungkin membakar. Warga di sini kesadarannya tinggi. Enggak mau membakar. Harus ada alat untuk membuka lahan tidur,” ungkap lulusan D-3 Pertanian Universitas Palangka Raya tahun 1994 ini.

Di tempat yang sama, Koordinator Community Development BNF Indonesia Yuliana Nona menyampaikan, BNF memiliki peran dalam pendampingan merawat dan menggali potensi hutan desa. Sejumlah desa yang ada di Kecamatan Kahayan Tengah memiliki potensi keanekaragaman hayati. Mulai dari primata, mamalia, burung, reptil, hingga aneka jenis tanaman.
“Satwa yang ada di hutan Desa Parahangan merupakan limpasan dari area sekitar hutan desa yang sudah menjadi perkebunan sawit. Oleh karena itu, rumah satu-satunya bagi satwa-satwa itu hanyalah hutan desa. Karena itu, kami berharap hutan di Desa Parahangan dapat dijaga kelestariannya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat desa, terutama kawula muda,” tegasnya. (*/ce)

Baca Juga :  PPDB dan PTM, Harus Lampirkan Surat Vaksinasi Orang Tua

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/