Menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keistikamahan. Perjalanan itu bukan sekadar mengingat ayat-ayat suci, tetapi juga bentuk pengabdian kepada orang tua dan harapan untuk memberikan penghargaan terbaik bagi mereka di akhirat kelak.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
HAFIZAH muda asal Kabupaten Katingan ini bernama Nor Aina. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku sekolah dasar. Awalnya ia hanya mampu menghafal setengah juz. Meski demikian, semangatnya tak padam. Perjalanan hafalannya berlanjut saat ia memutuskan untuk mondok di Pondok Pesantren Hidayatul Insan. Di sana, ia mengabdikan waktu selama enam tahun, hingga akhirnya berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an.
“Motivasi terbesar saya adalah ingin meninggikan derajat orang tua saya di akhirat nanti. Saya ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk mereka,” ungkap Aina saat berbincang dengan Kalteng Pos, Rabu (2/4).
Dalam perjalanan hafalannya, Aina mengaku ada sosok-sosok penting yang selalu memberikan dukungan penuh. Mereka adalah orang tua dan para gurunya. Tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga memastikannya tetap bersemangat dan istikamah dalam menghafal.
Tiap penghafal Al-Qur’an memiliki metode tersendiri dalam menghafal. Bagi Aina, metode yang paling efektif adalah dengan membaca berulang-ulang dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Ia terus menerapkan cara ini hingga kini, karena terbukti membantunya menghafal dengan lebih baik.
Namun, perjalanan menghafal bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah menjaga keistikamahan dalam murajaah (mengulang hafalan), sehingga hafalan tidak mudah hilang atau pudar dari ingatan.
“Yang penting itu istikamah. Kalau tidak murajaah tiap hari, hafalan bisa melemah. Jadi, saya selalu berusaha untuk mengulang hafalan tiap ada waktu,” jelasnya.
Selain itu, dukungan keluarga sangat berperan dalam perjalanannya menghafal Al-Qur’an.
“Pasti ada peran keluarga, mereka sangat men-support saya,” ucapnya penuh rasa syukur.
Menghafal Al-Qur’an memberikan banyak manfaat bagi kehidupan perempuan yang lahir tahun 2002 silam ini. Ia merasa hafalannya memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat berinteraksi dengan sesama di masyarakat.
“Menghafal Al-Qur’an sangat berpengaruh dalam kehidupan saya. Apalagi kalau sudah terjun ke tengah masyarakat, sangat terasa manfaatnya,” tuturnya.
Setelah berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an, harapan terbesar Aina adalah tetap istikamah menjaga hafalan Al-Qur’an dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga saya bisa tetap istikamah dalam menghafal, bisa membagi waktu dengan baik, dan selalu bersama Al-Qur’an dalam tiap langkah hidup saya,” pungkasnya. (*/ce/ala)