Kamis, Mei 30, 2024
24.6 C
Palangkaraya

Kisah Fauzan, Penghafal 30 Juz Al-Qur’an yang Penuh Inpirasi (10)

Delapan Bulan Hafal 30 Juz, Ingin Kuliah di Universitas Islam Madinah

Penghafal 30 juz Al-Qur’an yang penuh inspirasi kali ini adalah Fauzan. Sejak berusia 12 tahun, ia sudah menghafal seluruh Al-Qur’an. Kini remaja kelahiran 2004 itu rutin melakukan murajaah atau melafazkan kembali surah yang sudah dihafal agar lebih melekat dalam ingatan. 

 

IRPAN JURAYZ, Palangka Raya

 

KECINTAAN dan keinginan menghafal Al-Qur’an muncul semenjak Fauzan duduk di bangku kelas VI sekolah dasar (SD) di Sekolah Sahabat Alam. Fauzan termotivasi oleh kedua kakaknya yang juga seorang hafiz atau penghafal Al-Qur’an, Qonita dan Zahfan. Karena keinginan yang mengebu-gebu, pada tahun 2016 ia dikirim sang ayah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Qur’an Utrujah Ciseeng Bogor.

“Saya berhenti sekolah terlebih dahulu, lalu masuk ponpes,” ucap Fauzan dalam wawancara dengan Kalteng Pos, Senin (18/3).

Fauzan termasuk orang tercepat dalam menghafal Al-Qur’an. Hanya butuh waktu delapan bulan untuk menghafal 30 juz Al-Qur’an. “Di ponpes itu tiap hari saya menghafal, tidak ada pelajaran lain,” tuturnya.

Anak kelima dari pasangan Ustaz Amanto Surya Langka dan Qonita Tajudin itu bercerita, sering ia mengalami kesulitan pada awal proses menghafal. Dalam sehari hanya mampu menghafal setengah halaman.

Namun seiring berjalannya waktu, Fauzan mulai terbiasa. Makin cepat dalam menghafal Al-Qur’an. Saat memasuki juz 15, ia sudah bisa menghafal 5 halaman dalam sehari dan disetor kepada gurunya.

Baca Juga :  Tak Pelit Berbagi Ilmu Membudidayakan Lebah Madu

“Awal sulit sih, tapi setelah memasuki juz ke-15, mulai terbiasa. Saya bisa setor lima halaman kepada ustaz,” beber Fauzan.

Akhirnya Fauzan menuntaskan hafalan dalam waktu 8 bulan. Ia menyebut tidak ada rahasia cepat dalam menghafal Al-Qur’an. Yang terpenting baginya adalah konsisten tiap hari. Selepas pulang dari pondok tersebut, Fauzan langsung menyelesaikan pendidikan dasarnya. Kemudian lanjut ke SMP Sahabat Alam. Memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA), Fauzan memutuskan masuk ke Pondok Pesantren Hidayatul Insan (HI) Palangka Raya.

“Setelah masuk HI, saya sudah berpesan kepada pengurus ponpes bahwa kelas tiga nanti saya mau memperdalam sanad terlebih dahulu di Mesir dengan berguru atau talaqqi sama Syekh Ahmad Samir Al Azhari. Itu juga bagian dari program Tahfidz Utrujah Bogor, mengambil sanad di Mesir dan menghafal matan-matan ilmu tajwid. Talaqqi itu semacam privat langsung kepada ulama,” ungkap Fauzan.

Kini Fauzan baru saja kembali dari Mesir dan tengah menuntuskan pendidikan di Ponpes HI. Sembari menunggu kelulusan, Fauzan sudah punya rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Timur Tengah. “Harapan besar bisa masuk ke Universitas IsIam Madinah dan mengambil jurusan pendalaman Al-Qur’an,” tutur Fauzan.

Sementara itu, Amanto Surya Langka menyebut capaian anak-anaknya dalam menghafal Al-Qur’an merupakan semangat yang tumbuh dari dalam diri masing-masing. Dikatakannya semua anaknya memiliki latar belakang anak pendidikan pesantren. Sehingga kecintaan terhadap Al-Qur’an tumbuh dengan sendirinya.

Baca Juga :  Termotivasi oleh Orang Tua, Tiap Hari Setor Satu Halaman Hafalan

“Saya tidak pernah memaksa anak saya untuk jadi tahfiz, tetapi itu tumbuh dengan sendirinya. Yang ingin menghafal Al-Qur’an, saya kirim ke Pondok Tahfidz Qur’an Utrujah Ciseeng di Bogor, seperti Qosita, Zahfan, dan Fauzan ini,” ungkap Amanto.

“Alhamdulillah anak saya yang ketiga itu yang pertama hafal Al-Qur’an. Karena ketekunannya menghafal, ia mendapat beasiswa kuliah kedokteran di UIN Syarif Hidayatullah,” tambahnya.

Qosita saat ini sedang menjalani magang di Rumah Sakit Fatmawati untuk mendapatkan gelar dokternya. Sedangkan anak keempat Amanto, Zahfan, mengikuti jejak Qosita. Zahfan mendapat tiket umrah dari Qosita setelah mendapat juara pada event MTQ di Murung Raya tahun 2017 lalu.

“Waktu itu Qosita dapat hadiah umrah setelah juara lomba MTQ. Namun karena dia sedang berada di Mesir untuk belajar sanad, maka diberilah tiket umrahnya itu kepada Zahfan, dengan syarat Zahfan harus bisa menghafal Al-Qur’an. Zahfan pun menerima tantangan itu,” cerita Amanto.

Setelah menjalankan umrah, Zahfan langsung dikirim sang ayah ke Tahfidz Qur’an Utrujah Ciseeng Bogor hingga menyelesaikan pendidikannya di pondok tersebut. Kini ia menjadi tenaga pengajar di Pekalongan.

“Karena kedua kakaknya itulah, Fauzan pun ingin menjadi penghafal Al-Qur’an,” tutur Amanto. (*bersambung/ce/ala)

Penghafal 30 juz Al-Qur’an yang penuh inspirasi kali ini adalah Fauzan. Sejak berusia 12 tahun, ia sudah menghafal seluruh Al-Qur’an. Kini remaja kelahiran 2004 itu rutin melakukan murajaah atau melafazkan kembali surah yang sudah dihafal agar lebih melekat dalam ingatan. 

 

IRPAN JURAYZ, Palangka Raya

 

KECINTAAN dan keinginan menghafal Al-Qur’an muncul semenjak Fauzan duduk di bangku kelas VI sekolah dasar (SD) di Sekolah Sahabat Alam. Fauzan termotivasi oleh kedua kakaknya yang juga seorang hafiz atau penghafal Al-Qur’an, Qonita dan Zahfan. Karena keinginan yang mengebu-gebu, pada tahun 2016 ia dikirim sang ayah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Qur’an Utrujah Ciseeng Bogor.

“Saya berhenti sekolah terlebih dahulu, lalu masuk ponpes,” ucap Fauzan dalam wawancara dengan Kalteng Pos, Senin (18/3).

Fauzan termasuk orang tercepat dalam menghafal Al-Qur’an. Hanya butuh waktu delapan bulan untuk menghafal 30 juz Al-Qur’an. “Di ponpes itu tiap hari saya menghafal, tidak ada pelajaran lain,” tuturnya.

Anak kelima dari pasangan Ustaz Amanto Surya Langka dan Qonita Tajudin itu bercerita, sering ia mengalami kesulitan pada awal proses menghafal. Dalam sehari hanya mampu menghafal setengah halaman.

Namun seiring berjalannya waktu, Fauzan mulai terbiasa. Makin cepat dalam menghafal Al-Qur’an. Saat memasuki juz 15, ia sudah bisa menghafal 5 halaman dalam sehari dan disetor kepada gurunya.

Baca Juga :  Tak Pelit Berbagi Ilmu Membudidayakan Lebah Madu

“Awal sulit sih, tapi setelah memasuki juz ke-15, mulai terbiasa. Saya bisa setor lima halaman kepada ustaz,” beber Fauzan.

Akhirnya Fauzan menuntaskan hafalan dalam waktu 8 bulan. Ia menyebut tidak ada rahasia cepat dalam menghafal Al-Qur’an. Yang terpenting baginya adalah konsisten tiap hari. Selepas pulang dari pondok tersebut, Fauzan langsung menyelesaikan pendidikan dasarnya. Kemudian lanjut ke SMP Sahabat Alam. Memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA), Fauzan memutuskan masuk ke Pondok Pesantren Hidayatul Insan (HI) Palangka Raya.

“Setelah masuk HI, saya sudah berpesan kepada pengurus ponpes bahwa kelas tiga nanti saya mau memperdalam sanad terlebih dahulu di Mesir dengan berguru atau talaqqi sama Syekh Ahmad Samir Al Azhari. Itu juga bagian dari program Tahfidz Utrujah Bogor, mengambil sanad di Mesir dan menghafal matan-matan ilmu tajwid. Talaqqi itu semacam privat langsung kepada ulama,” ungkap Fauzan.

Kini Fauzan baru saja kembali dari Mesir dan tengah menuntuskan pendidikan di Ponpes HI. Sembari menunggu kelulusan, Fauzan sudah punya rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Timur Tengah. “Harapan besar bisa masuk ke Universitas IsIam Madinah dan mengambil jurusan pendalaman Al-Qur’an,” tutur Fauzan.

Sementara itu, Amanto Surya Langka menyebut capaian anak-anaknya dalam menghafal Al-Qur’an merupakan semangat yang tumbuh dari dalam diri masing-masing. Dikatakannya semua anaknya memiliki latar belakang anak pendidikan pesantren. Sehingga kecintaan terhadap Al-Qur’an tumbuh dengan sendirinya.

Baca Juga :  Termotivasi oleh Orang Tua, Tiap Hari Setor Satu Halaman Hafalan

“Saya tidak pernah memaksa anak saya untuk jadi tahfiz, tetapi itu tumbuh dengan sendirinya. Yang ingin menghafal Al-Qur’an, saya kirim ke Pondok Tahfidz Qur’an Utrujah Ciseeng di Bogor, seperti Qosita, Zahfan, dan Fauzan ini,” ungkap Amanto.

“Alhamdulillah anak saya yang ketiga itu yang pertama hafal Al-Qur’an. Karena ketekunannya menghafal, ia mendapat beasiswa kuliah kedokteran di UIN Syarif Hidayatullah,” tambahnya.

Qosita saat ini sedang menjalani magang di Rumah Sakit Fatmawati untuk mendapatkan gelar dokternya. Sedangkan anak keempat Amanto, Zahfan, mengikuti jejak Qosita. Zahfan mendapat tiket umrah dari Qosita setelah mendapat juara pada event MTQ di Murung Raya tahun 2017 lalu.

“Waktu itu Qosita dapat hadiah umrah setelah juara lomba MTQ. Namun karena dia sedang berada di Mesir untuk belajar sanad, maka diberilah tiket umrahnya itu kepada Zahfan, dengan syarat Zahfan harus bisa menghafal Al-Qur’an. Zahfan pun menerima tantangan itu,” cerita Amanto.

Setelah menjalankan umrah, Zahfan langsung dikirim sang ayah ke Tahfidz Qur’an Utrujah Ciseeng Bogor hingga menyelesaikan pendidikannya di pondok tersebut. Kini ia menjadi tenaga pengajar di Pekalongan.

“Karena kedua kakaknya itulah, Fauzan pun ingin menjadi penghafal Al-Qur’an,” tutur Amanto. (*bersambung/ce/ala)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/