Kamis, Juli 25, 2024
24.1 C
Palangkaraya

Natalia Risakwelumni, Lulusan Terbaik SMK Maharati Angkatan Pertama (1)

“Ayah Bangga Melihat Saya dari Surga”

Tahun ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maharati meluluskan angkatan pertama. Natalia Risakwelumni menjadi siswi lulusan terbaik dari sekolah yang berada di Desa Buhut Jaya, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas itu. Saya (penulis) turut menyaksikan suasana haru saat Natalia bersama teman-temannya diwisuda.  

ILHAM ROMADHONA, Kuala Kapuas

KURANG lebih tujuh jam perjalanan saya dari Kota Palangka Raya menuju Desa Buhut Jaya. Menyusuri jalan berpasir dan berlubang. Kendaraan proyek yang berlalu lalang menjadi pemandangan unik yang mewarnai perjalanan saya untuk menghadiri wisuda angkatan pertama SMK Maharati.

Acara wisuda digelar di Gedung Serbaguna SMK Maharati, Desa Buhut Jaya, Jumat (14/6). Kegiatan itu dihadiri orang tua siswa yang menyaksikan buah hati mereka menamatkan pendidikan tingkat menengah kejurusan. Acara itu makin spesial karena Presdir PT Pamapersada dan PT Tuah Turangga Agung, Hendra Hutahean turut hadir bersama jajarannya. Tak hanya itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas juga tampak hadir mewakili Pj Bupati Kabupaten Kapuas.

Acara berjalan khidmat. Dimulai dengan tari persembahan Likok Pulo yang dibawakan Sanggar Tari Maharati, dilanjutkan dengan pemutaran video kenangan, sambutan-sambutan, prosesi pemindahan tali toga, hingga foto bersama untuk menyempurnakan kenangan selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMK Maharati.

Ada satu hal menarik dari acara wisuda tersebut. Para tamu tertuju pada sosok Natalia Risakwelumni. Tak sedikit yang meneteskan air mata ketika mendengar dan melihat Natalia berpidato. Dalam momen itu, Natalia menceritakan liku-liku perjalanan hidupnya demi bisa membahagiakan kedua orang tua.

Remaja asal Desa Batapah itu bercerita tentang sulitnya akses menempuh pendidikan setelah sekolah menengah pertama (SMP). Sebab, tidak ada sekolah menengah atas (SMA) yang jaraknya dekat dari desa. Setidaknya harus pergi ke Kecamatan Timpah. Itu pun terkendala jarak tempuh yang memakan waktu dua jam perjalanan. Belum lagi orang tua yang tidak ingin sang anak bersekolah jauh dari tempat tinggal. Khawatir terjadi hal-hal tak diinginkan.

Baca Juga :  Lewati Masa Kritis, Fokus Meningkatkan Berat Badan

“Sudah tentu biaya makin besar, mencakup biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, sewa barak, dan keperluan lain. Itulah mengapa sebagian besar remaja di Desa Batapah tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP,” ucapnya.

Tahun 2021, kabar bahagia sampai ke telinga masyarakat Desa Batapah. PAMA Grup berencana membangun SMK Maharati di Desa Buhut Jaya dengan konsep asrama.

“Ini menjadi solusi bagi kami yang selama ini kesulitan dan bingung ingin melanjutkan SMA,” tutur Natalia.

Dengan dibangunnya SMK Maharati, tidak ada lagi kekhawatiran Natalia untuk putus sekolah. Begitu pun dengan orang tuanya. Tidak khawatir lagi anaknya bersekolah di tempat yang jauh dari tempat tinggal. SMK Maharati benar-benar menjadi berkah baginya, keluarga, dan masyarakat Desa Batapah.

Menempuh pendidikan di SMK Maharati tidak semudah yang dibayangkan. Sempat terbesit di pikiran Natali –sapaan akrab Natalia, untuk mundur sebelum wisuda. Tahun 2022, saat duduk di bangku kelas XI semester satu, tragedi menimpa keluarganya. Sang ayah meninggal dunia.

“Saya terpukul, sedih, bahkan saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah,” ungkap gadis berusia 17 tahun itu.

Buah hati dari ibu Susiutma itu sempat berpikir, apa artinya hidup bila tidak melanjutkan perjuangan. Ayah yang selama ini selalu menjadi orang pertama yang mendukung dirinya telah tiada.

“Untuk apa saya memperjuangkan pendidikan? Saya pernah buat wish list untuk membahagiakan kedua orang tua. Namun setelah kehilangan ayah, wish list itu buat apa?” tuturnya.

Tidak mudah untuk membangkitkan kembali semangat yang hilang. Namun, berbagai dukungan datang. Dari ibu, keluarga, teman-teman, guru, bahkan orang sekitar yang tak dikenal. Berusaha untuk menyemangatinya dan segera bangkit.

Baca Juga :  Pegiat Lingkungan; Masyarakat Lokal Mampu Menjaga Ketahanan Pangan

“Saya sempat tidak yakin dengan semangat yang diberikan orang-orang sekitar. Karena itu, saya harus membangkitkan semangat dari diri sendiri,” beber lulusan akademik terbaik SMK Maharati tersebut.

Ia mengenang kembali. Semasa hidup, sang ayah selalu berpesan kepadanya. “Natali harus sukses, tentu Natali harus sukses,” ucapnya. “Namun ayah tidak mengatakan ayah harus melihat Natali saat sukses,” lanjutnya.

Pesan itulah yang membangkitkan kembali asa dan semangat Natali. Ayah memang telah tiada. Namun masih ada sosok ibu yang selalu berdoa dan mendukung kesuksesannya.

“Ada atau tidak adanya ayah, saya harus sukses, itu komitmen saya,” tegasnya.

Sejak itu, Natali pun makin giat belajar. Membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik. Mengembangkan talenta yang dimiliki, membagikan ilmu kepada teman-teman, dan membahagiakan ibu.

“Walau ayah tidak melihat secara langsung saat saya sukses, tetapi saya yakin ayah akan bangga melihat saya dari surga,” pungkasnya.

Tak lupa Natali berterima kasih kepada guru dan staf SMK Maharati yang selalu setia membimbing para siswa, memberikan pelayanan terbaik dalam membagikan ilmu dan pengetahuan selama tiga tahun.

Sebagai informasi, SMK Maharati terletak di tepi pertambangan batu bara. Sekolah berbasis vokasi tersebut mempersiapkan lulusan menjadi tenaga kerja siap pakai. Fasilitas sekolah pun mumpuni. Ada sport center dan fasilitas penunjang lainnya. Yang cukup membuat saya terkejut, ada banyak asrama yang lokasinya tepat di belakang bangunan sekolah. Di asrama itu, para siswa bisa beristirahat dengan nyaman. Mereka tidak perlu memikirkan lagi sulit dan jauhnya perjalanan yang harus ditempuh dari rumah ke sekolah tempat menimba ilmu. (*/ce/ala)

Tahun ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maharati meluluskan angkatan pertama. Natalia Risakwelumni menjadi siswi lulusan terbaik dari sekolah yang berada di Desa Buhut Jaya, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas itu. Saya (penulis) turut menyaksikan suasana haru saat Natalia bersama teman-temannya diwisuda.  

ILHAM ROMADHONA, Kuala Kapuas

KURANG lebih tujuh jam perjalanan saya dari Kota Palangka Raya menuju Desa Buhut Jaya. Menyusuri jalan berpasir dan berlubang. Kendaraan proyek yang berlalu lalang menjadi pemandangan unik yang mewarnai perjalanan saya untuk menghadiri wisuda angkatan pertama SMK Maharati.

Acara wisuda digelar di Gedung Serbaguna SMK Maharati, Desa Buhut Jaya, Jumat (14/6). Kegiatan itu dihadiri orang tua siswa yang menyaksikan buah hati mereka menamatkan pendidikan tingkat menengah kejurusan. Acara itu makin spesial karena Presdir PT Pamapersada dan PT Tuah Turangga Agung, Hendra Hutahean turut hadir bersama jajarannya. Tak hanya itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas juga tampak hadir mewakili Pj Bupati Kabupaten Kapuas.

Acara berjalan khidmat. Dimulai dengan tari persembahan Likok Pulo yang dibawakan Sanggar Tari Maharati, dilanjutkan dengan pemutaran video kenangan, sambutan-sambutan, prosesi pemindahan tali toga, hingga foto bersama untuk menyempurnakan kenangan selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMK Maharati.

Ada satu hal menarik dari acara wisuda tersebut. Para tamu tertuju pada sosok Natalia Risakwelumni. Tak sedikit yang meneteskan air mata ketika mendengar dan melihat Natalia berpidato. Dalam momen itu, Natalia menceritakan liku-liku perjalanan hidupnya demi bisa membahagiakan kedua orang tua.

Remaja asal Desa Batapah itu bercerita tentang sulitnya akses menempuh pendidikan setelah sekolah menengah pertama (SMP). Sebab, tidak ada sekolah menengah atas (SMA) yang jaraknya dekat dari desa. Setidaknya harus pergi ke Kecamatan Timpah. Itu pun terkendala jarak tempuh yang memakan waktu dua jam perjalanan. Belum lagi orang tua yang tidak ingin sang anak bersekolah jauh dari tempat tinggal. Khawatir terjadi hal-hal tak diinginkan.

Baca Juga :  Lewati Masa Kritis, Fokus Meningkatkan Berat Badan

“Sudah tentu biaya makin besar, mencakup biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, sewa barak, dan keperluan lain. Itulah mengapa sebagian besar remaja di Desa Batapah tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP,” ucapnya.

Tahun 2021, kabar bahagia sampai ke telinga masyarakat Desa Batapah. PAMA Grup berencana membangun SMK Maharati di Desa Buhut Jaya dengan konsep asrama.

“Ini menjadi solusi bagi kami yang selama ini kesulitan dan bingung ingin melanjutkan SMA,” tutur Natalia.

Dengan dibangunnya SMK Maharati, tidak ada lagi kekhawatiran Natalia untuk putus sekolah. Begitu pun dengan orang tuanya. Tidak khawatir lagi anaknya bersekolah di tempat yang jauh dari tempat tinggal. SMK Maharati benar-benar menjadi berkah baginya, keluarga, dan masyarakat Desa Batapah.

Menempuh pendidikan di SMK Maharati tidak semudah yang dibayangkan. Sempat terbesit di pikiran Natali –sapaan akrab Natalia, untuk mundur sebelum wisuda. Tahun 2022, saat duduk di bangku kelas XI semester satu, tragedi menimpa keluarganya. Sang ayah meninggal dunia.

“Saya terpukul, sedih, bahkan saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah,” ungkap gadis berusia 17 tahun itu.

Buah hati dari ibu Susiutma itu sempat berpikir, apa artinya hidup bila tidak melanjutkan perjuangan. Ayah yang selama ini selalu menjadi orang pertama yang mendukung dirinya telah tiada.

“Untuk apa saya memperjuangkan pendidikan? Saya pernah buat wish list untuk membahagiakan kedua orang tua. Namun setelah kehilangan ayah, wish list itu buat apa?” tuturnya.

Tidak mudah untuk membangkitkan kembali semangat yang hilang. Namun, berbagai dukungan datang. Dari ibu, keluarga, teman-teman, guru, bahkan orang sekitar yang tak dikenal. Berusaha untuk menyemangatinya dan segera bangkit.

Baca Juga :  Pegiat Lingkungan; Masyarakat Lokal Mampu Menjaga Ketahanan Pangan

“Saya sempat tidak yakin dengan semangat yang diberikan orang-orang sekitar. Karena itu, saya harus membangkitkan semangat dari diri sendiri,” beber lulusan akademik terbaik SMK Maharati tersebut.

Ia mengenang kembali. Semasa hidup, sang ayah selalu berpesan kepadanya. “Natali harus sukses, tentu Natali harus sukses,” ucapnya. “Namun ayah tidak mengatakan ayah harus melihat Natali saat sukses,” lanjutnya.

Pesan itulah yang membangkitkan kembali asa dan semangat Natali. Ayah memang telah tiada. Namun masih ada sosok ibu yang selalu berdoa dan mendukung kesuksesannya.

“Ada atau tidak adanya ayah, saya harus sukses, itu komitmen saya,” tegasnya.

Sejak itu, Natali pun makin giat belajar. Membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik. Mengembangkan talenta yang dimiliki, membagikan ilmu kepada teman-teman, dan membahagiakan ibu.

“Walau ayah tidak melihat secara langsung saat saya sukses, tetapi saya yakin ayah akan bangga melihat saya dari surga,” pungkasnya.

Tak lupa Natali berterima kasih kepada guru dan staf SMK Maharati yang selalu setia membimbing para siswa, memberikan pelayanan terbaik dalam membagikan ilmu dan pengetahuan selama tiga tahun.

Sebagai informasi, SMK Maharati terletak di tepi pertambangan batu bara. Sekolah berbasis vokasi tersebut mempersiapkan lulusan menjadi tenaga kerja siap pakai. Fasilitas sekolah pun mumpuni. Ada sport center dan fasilitas penunjang lainnya. Yang cukup membuat saya terkejut, ada banyak asrama yang lokasinya tepat di belakang bangunan sekolah. Di asrama itu, para siswa bisa beristirahat dengan nyaman. Mereka tidak perlu memikirkan lagi sulit dan jauhnya perjalanan yang harus ditempuh dari rumah ke sekolah tempat menimba ilmu. (*/ce/ala)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/