Site icon KaltengPos

Muhammad Fauzan Al Farisi Bercita-cita Menjadi Hafiz dan Ustaz

Muhammad Fauzan Al Farisi  

Seperti prajurit yang siap bertempur, semangat dan tekad kuat tergambar jelas pada wajah Fauzan. Usianya boleh dikatakan masih sangat muda, tetapi tekadnya menjadi penghafal Al-Qur’an seluas lautan.

 

FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya

 

DI dalam kantor Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Asy Syaami, berjejer buku dan perlengkapan mengajar. Tersusun rapi di tiap loker. Ruangannya tidak besar. Namun, terasa begitu nyaman saat saya (penulis, red) berada di ruangan itu.

Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki duduk dengan tenang. Tatapan matanya tampak hangat. Namanya Muhammad Fauzan Al Farisi.

Anak laki-laki yang akrab disapa Fauzan itu, membagikan kisahnya kepada Kalteng Pos selama empat tahun berjuang menghafal Al-Qur’an di SDIT Asy Syaamil, Jalan Perkutut, Kota Palangka Raya.

Saat ditanya mengenai cita-cita, dengan mantap Fauzan menyebut ingin menjadi seorang ustaz seperti sosok guru di sekolahnya, Ustaz Akbar, yang merupakan guru favoritnya.

“Mau seperti Ustaz Akbar, karena suka bercanda, tapi juga bisa serius. Kalau ngajar di kelas, materinya gampang masuk ke ingatan saya,” kata Fauzan penuh semangat saat berbincang dengan Kalteng Pos, Selasa siang (11/3/2025).

Di sekolah tempatnya menuntut ilmu ini, ada banyak hal yang telah ia pelajari. Mulai dari budi pekerti, tata krama kepada yang lebih tua maupun yang muda. Lalu, ustaz dan ustazah juga mengajarkan hal-hal sederhana yang biasanya dilakukan di rumah, seperti melipat baju dan mencuci piring.

Tentu tidak hanya itu yang diajarkan ustaz dan ustazah. Mata pelajaran umum seperti matematika, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sebagaimana yang diajarkan di sekolah pada umumnya.

Sejalan dengan teori di sekolah tentang mata pelajaran tauhid, akhlak yang menjadi favoritnya. Dengan begitu gembira, Fauzan mengatakan pelajaran akhlak merupakan yang paling membekas dalam ingatan, karena bisa langsung dipraktikkan dan mudah dipahami.

Fauzan yang kini duduk di bangku kelas 4, begitu santai dan lancar menceritakan rutinitas hariannya, sejak subuh hingga tidur malam. Tergambar jelas kedewasaan dalam dirinya. Pribadi yang tenang dan santun.

“Saya biasa bangun untuk salat Subuh, lalu siap-siap ke sekolah dan dilanjutkan sarapan, tetapi karena sekarang ini Ramadan, Fauzan dan keluarga tidak sarapan,” jelasnya.

Pagi hari, bersama ustaz dan teman-temannya, Fauzan melaksanakan murajaah surat tertentu, kemudian dilanjutkan murajaah hafalan surat masing-masing.

Waktu setoran hafalan ke ustaz yakni hari Jumat tiap pekan. Fauzan mengatakan, kadang kala ia bisa menyetor hingga dua halaman jika hafalan lancar.

“Kegiatan pagi, selain murajaah, kami juga diajari keagamaan oleh ustazah, seperti tauhid, fiqih, dan akhlak, itu sampai menjelang pukul 12.00,” beber Fauzan.

Setelah selesai salat Zuhur, dilanjutkan dengan pelajaran umum seperti matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa arab.

Selepas pulang sekolah atau pukul 14.00, Fauzan akan menyiapkan diri untuk belajar mengaji pada waktu sore harinya, kemudian beristirahat sebentar untuk salat Magrib.

Sudah menjadi kebiasaan Fauzan, setelah salat Magrib ia melakukan murajaah hafalan atau menambah hafalan, dengan dibantu ayahnya.

Menjelang tidur malam, ia konsisten mendengarkan murotal surat Al-Mulk, sebagaimana yang disarankan ustazah agar lebih mudah dalam menghafal Al-Qur’an.

Rutinitas ini dijalankan Fauzan tanpa pernah mengeluh.

“Saya tidak pernah lelah sama sekali. Saya senang melakukan hafalan,” ucapnya sambil tersenyum.

Saya turut merasakan keyakinan yang kuat dalam diri anak berusia 9 tahun ini. Meski masih sangat muda, tetapi ia telah memiliki cita-cita mulia menjadi seorang hafiz dan ustaz.

Tahun ini, Fauzan telah menghafal 3 juz, dimulai sejak masuk kelas 1 sekolah dasar (SD).

Trik yang biasa digunakannya dalam menghafal adalah dengan mengulang satu ayat hingga lancar, barulah melanjutkan ke ayat berikut. Hal yang sama pun terus dilakukan. Sejauh ini, metode tersebut cocok untuknya.

Anak bungsu dari pasutri Tri Widodo dan Nila Susanti ini memiliki surat favorit, yaitu Al Mulk dan Al Hasyr. Selain suka dan familiar, menurutnya menghafal kedua surat ini tidak sulit.

Jika telah menyelesaikan pendidikan di SDIT Asy Syaamil, Fauzan berencana melanjutkan sekolah di pondok pesantren tempat kakaknya belajar saat ini, Pondok Pesantren Yan’bul Qur’an di Pati, Jawa Tengah.

Selain dilatarbelakangi oleh cita-citanya menjadi ustaz, ia juga punya kedekatan dengan sang kakak, Faiq. Karena jarak usia keduanya hanya terpaut 4 tahun, membuat komunikasi dan hubungan mereka sangat dekat. Begitu pula dengan anggota keluarga yang lain, saling menjaga satu sama lain.

Ayah dan ibu Fauzan merupakan tenaga pengajar di dunia pendidikan. Pekerjaan sebagai dosen membuat mereka sangat sibuk. Meski demikian, kasih sayang keduanya tetap dirasakan oleh Fauzan.

“Abi sama umi kerja sebagai dosen, tetapi beda kampus. Kalau akhir pekan ada waktu luang, kami sering diajak liburan,” ungkapnya. (bersambung/ce/ram)

Exit mobile version